Di Usia 77 Tahun, Ia Berjalan 14 Kilometer di Bawah Langit Penuh Drone demi Keluar dari ‘Neraka’ Lyman

Seorang perempuan lanjut usia berusia 77 tahun menempuh perjalanan kaki sejauh 14 kilometer untuk meninggalkan Lyman, Donetsk, di tengah ancaman serangan drone dan artileri.
Penulis: Muzakir Salim
Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:34:31 WIB

Seorang perempuan berusia 77 tahun berjalan sembilan mil atau sekitar 14 kilometer melewati medan berbahaya untuk meninggalkan Lyman, kota di Oblast Donetsk yang kini menjadi salah satu titik terpanas invasi Rusia. Ia menggambarkan perjalanan itu sebagai upaya melarikan diri dari "neraka".

Laporan dari jurnalis di lapangan menyebutkan, tim evakuasi sukarelawan menolak masuk ke Lyman karena risiko serangan drone dan artileri yang terlalu tinggi. Kondisi ini memaksa warga lanjut usia dan mereka yang tidak mampu mengungsi lebih awal untuk bertahan hidup sendirian.

Kota yang Ditinggalkan: Kehidupan di Antara Reruntuhan dan Drone

Lyman nyaris tidak memiliki infrastruktur yang berfungsi. Listrik padam, air bersih sulit didapat, dan toko-toko tutup. Mereka yang masih tinggal—kebanyakan lansia—harus mencari makanan dari sisa-sisa rumah yang hancur atau bergantung pada bantuan yang jarang tiba.

Drone pengintai Rusia dikabarkan terus beroperasi di atas kota. Setiap pergerakan warga yang terlihat bisa memicu serangan artileri. "Kami tidak bisa keluar rumah di siang hari," kata seorang warga lain yang berhasil dievakuasi pekan lalu, dikutip dari keterangan yang beredar. "Mereka menembak apa saja yang bergerak."

Rute Evakuasi yang Mematikan: Jalan Kaki di Bawah Ancaman

Jarak 14 kilometer yang ditempuh perempuan 77 tahun itu bukan sekadar perjalanan jauh. Jalur yang dilaluinya melewati ladang terbuka, parit, dan sisa-sisa posisi militer yang telah ditinggalkan. Tanpa kendaraan, ia harus berhenti berkali-kali untuk beristirahat di balik pohon atau reruntuhan bangunan.

Tim medis yang menerima para pengungsi di titik kumpul di luar Lyman menyebut banyak dari mereka datang dalam keadaan dehidrasi dan kelelahan ekstrem. Beberapa lainnya mengalami luka ringan akibat terjatuh saat berjalan di malam hari untuk menghindari deteksi drone.

Mengapa Tim Penyelamat Menolak Masuk

Keputusan untuk tidak memasuki Lyman diambil setelah beberapa kali upaya evakuasi nyaris berakhir fatal. Kendaraan lapis baja yang digunakan untuk menjemput warga menjadi sasaran tembakan anti-tank. Drone FPV—kendaraan udara nirawak yang diisi bahan peledak—juga aktif mengejar target individu.

"Kami tidak bisa mempertaruhkan nyawa sukarelawan untuk masuk ke sana," ujar seorang koordinator evakuasi yang enggan disebutkan namanya. "Satu-satunya cara sekarang adalah warga keluar sendiri, dan kami menjemput mereka di titik yang lebih aman."

Kondisi ini menempatkan warga sipil yang tersisa di Lyman dalam posisi yang sangat sulit. Mereka yang masih bertahan umumnya adalah mereka yang menolak meninggalkan rumah atau tidak memiliki keluarga yang bisa menjemput.

Situasi di Front Timur Ukraina

Lyman berada di bawah kendali Ukraina setelah berhasil direbut kembali pada Oktober 2022, namun sejak itu kota ini terus menjadi sasaran serangan Rusia yang mencoba merebut kembali wilayah tersebut. Pertempuran di sekitar Lyman dan kota-kota lain di Oblast Donetsk masih berlangsung hingga kini.

Kementerian Pertahanan Ukraina belum memberikan komentar resmi mengenai situasi evakuasi di Lyman. Sementara itu, pasukan Rusia dikabarkan memperkuat posisi di utara dan timur kota, mempersempit ruang gerak bagi warga sipil yang ingin keluar.

Belum ada informasi mengenai warga negara Indonesia yang terdampak langsung di wilayah Lyman. Kementerian Luar Negeri RI sebelumnya telah mengimbau WNI untuk meninggalkan Ukraina sejak awal konflik dan terus memperbarui data evakuasi melalui kanal resmi.

Reporter: Muzakir Salim