LIPUTANHARIAN.CO.ID — Gelombang gadget retro kembali menyerbu pasar teknologi global, mulai dari pemutar kaset, pemutar CD portabel, hingga ponsel flip modern. Fenomena ini muncul sebagai reaksi terhadap kejenuhan langganan aplikasi dan fitur AI yang makin membanjiri perangkat sehari-hari. Sebagian perangkat memadukan fungsi modern dalam cangkang lawas, sebagian lain justru menjual kesederhanaan sebagai nilai utama.
Pasar gadget retro menunjukkan geliat nyata sepanjang tahun ini. Sejumlah produk baru bermunculan dengan desain yang meniru era 1980-an hingga awal 2000-an, mulai dari jam tangan digital hingga pemutar musik portabel. Minat pembeli bergerak ke arah berlawanan dari tren perangkat modern yang makin rumit.
Alasannya cukup praktis. Banyak pengguna lelah dengan model langganan aplikasi yang terus menagih dan fitur kecerdasan buatan yang disisipkan ke hampir semua produk. Perangkat retro menawarkan pengalaman yang lebih terbatas, tetapi justru dianggap lebih terkendali.
Gadget Retro dengan Fungsi Modern
Sebagian produsen tidak sekadar menjual nostalgia. Mereka membungkus teknologi terkini dalam cangkang old-school agar tetap relevan dengan kebutuhan pengguna masa kini.
Casio F-B100W menjadi contoh paling menonjol. Jam tangan digital berbodi tebal ini dilengkapi penghitung langkah, fungsi yang biasanya hanya ada di smartwatch. Harganya jauh di bawah jam pintar arus utama, tetapi tetap bisa memantau aktivitas harian.
Di segmen audio, New Matter Sudo tampil sebagai pemutar musik yang masih dalam tahap pengembangan. Bentuknya menyerupai iPod Classic dengan click wheel dan jack audio 3,5 mm, namun tetap bisa mengakses layanan streaming musik. Slot microSD disediakan untuk menyimpan lagu secara lokal.
Perangkat yang Menjual Kesederhanaan
Kelompok kedua justru menjadikan keterbatasan sebagai daya tarik utama. Pinwheel Home Phone adalah telepon dinding yang hanya bisa menghubungi kontak yang sudah disetujui orang tua. Perangkat ini dirancang untuk anak praremaja agar bisa menelepon teman tanpa terpapar media sosial.
Commodore Callback mengambil pendekatan serupa lewat format flip phone. Ponsel ini diposisikan sebagai penghalang kecil bagi pikiran yang terus-menerus tergoda notifikasi, cocok bagi pengguna yang ingin mengurangi ketergantungan pada smartphone layar sentuh.
Nokia 300 Charge masih berformat feature phone, tetapi tidak lagi tersambung kabel melingkar ke dinding. Daya tarik utamanya justru lampu senter yang diklaim empat kali lebih terang dibanding Nokia 105, ditambah fungsi power bank bawaan dan jack headphone.
Audio Fisik dan Kamera Film
Gadhouse Miko memutar kaset secara fisik, sehingga pengguna benar-benar memiliki koleksi musik yang diputar. Kualitas audio bukan prioritas utama perangkat ini, tetapi tidak ada risiko lagu hasil kecerdasan buatan muncul di daftar putar.
Yamaha CD-C603 menghadirkan pemutar CD lima cakram, format yang terasa seperti kembali ke awal 2000-an. SHANLING EC Play menawarkan pemutar CD portabel dengan kredensial audiophile, termasuk penguat headphone, daya tahan 12 jam, serta keluaran Bluetooth, 3,5 mm, 4,4 mm, dan Coax.
FiiO EH11 melengkapi daftar lewat headphone on-ear bergaya retro. Sementara Kodak Snapic A1 mengajak pengguna kembali ke fotografi film saku, solusi bagi pemilik ponsel yang album fotonya penuh tetapi jarang dibuka kembali.
Mengapa Tren Ini Muncul Sekarang
Kejenuhan terhadap langganan digital menjadi pemicu utama. Banyak konsumen mulai menghitung ulang pengeluaran bulanan untuk aplikasi dan layanan cloud yang terus bertambah.
Fitur AI yang disisipkan ke berbagai perangkat juga memperkuat dorongan balik ini. Sebagian pengguna lebih memilih alat dengan fungsi jelas dan terbatas daripada perangkat yang terus menawarkan fitur baru yang belum tentu dibutuhkan.
Faktor harga ikut berperan. Jam tangan digital Casio dan feature phone Nokia dijual jauh lebih murah dibanding smartwatch atau smartphone kelas menengah, sehingga mudah dijadikan perangkat pendamping.
Siapa yang Cocok Membeli
Gadget retro paling masuk akal bagi pengguna yang ingin mengurangi waktu layar tanpa melepas kebiasaan mendengarkan musik atau memotret. Pemutar kaset dan CD portabel cocok untuk kolektor musik fisik yang masih menyimpan koleksi lama.
Untuk orang tua, Pinwheel Home Phone dan Commodore Callback menawarkan jalan tengah sebelum anak memiliki smartphone penuh. Sementara Casio F-B100W dan Nokia 300 Charge masuk kategori pembelian impulsif dengan harga terjangkau.
Sebagian produk dalam daftar ini belum dipasarkan resmi di Indonesia, sehingga calon pembeli perlu memantau kanal penjualan resmi masing-masing merek untuk memastikan ketersediaan dan dukungan garansi lokal.