Pencarian

Inggris Siap Tiru Tarif 45 Persen Uni Eropa untuk Mobil Listrik China

Senin, 05 Oktober 2026 • 11:31:32 WIB
Inggris Siap Tiru Tarif 45 Persen Uni Eropa untuk Mobil Listrik China
Pemerintah Inggris tengah menyusun tarif impor mobil listrik asal China hingga 45 persen.

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Pemerintah Inggris tengah menyusun tarif impor mobil listrik asal China hingga 45 persen, menyamai kebijakan Uni Eropa yang sudah berlaku lebih dulu. Langkah ini bukan sekadar soal harga mobil di showroom, tapi soal nasib rantai pasok otomotif Inggris pasca-Brexit yang masih bergantung pada pasar Eropa. Tekanannya datang dari dua sisi: banjir EV China dan aturan "Made in Europe".

Menteri Bisnis, Inovasi, Sains, dan Perdagangan Inggris, Jonathan Reynolds, sedang menyiapkan mekanisme pungutan yang meniru tarif Uni Eropa. Laporan The Times edisi 5 Oktober 2026 menyebut kabinet menteri Inggris sudah membahas penyelarasan tarif hingga 45 persen terhadap kendaraan listrik asal China. Angka itu identik dengan yang sudah diterapkan Brussels sebelumnya.

Kebijakan ini belum final. Juru bicara Pemerintah Inggris menolak mengonfirmasi detail tarif, tapi menegaskan ada langkah pengamanan pasar yang sedang disiapkan. Sinyal ke arah proteksionisme makin kuat.

Mengapa Inggris Ikut Menyalip Tarif Uni Eropa

Ada dua kekhawatiran yang mendorong langkah ini. Pertama, produsen otomotif China dianggap melakukan praktik dumping kendaraan bersubsidi di pasar Inggris. Harga yang ditekan lewat subsidi negara membuat kompetitor lokal dan produsen Eropa yang beroperasi di Inggris sulit bersaing.

Kedua, dan ini yang jarang dibahas, Inggris takut kena sanksi tidak langsung dari aturan "Made in Europe" milik Uni Eropa. Regulasi itu dirancang mengurangi ketergantungan Eropa pada komponen China dengan memprioritaskan barang produksi benua tersebut.

Artinya, kalau Inggris tidak menyelaraskan tarifnya, produsen Inggris yang memasok suku cadang ke rantai manufaktur Eropa bisa dianggap melanggar aturan asal barang. Akses pasar mereka ke Uni Eropa terancam.

Tiga Faktor yang Memaksa Inggris Bersikap Defensif

  • Ancaman hambatan ekspor: tanpa penyelarasan tarif 45 persen, produsen Inggris berisiko kehilangan akses ke rantai manufaktur Eropa karena dianggap melanggar aturan "Made in Europe".
  • Kekhawatiran dumping: EV China dengan harga ditekan subsidi negara mengancam kelangsungan kompetitor dan produsen lokal Inggris.
  • Ketergantungan ekspor: pasar otomotif Inggris belum mandiri dan masih mengandalkan penjualan lintas batas ke negara-negara Uni Eropa.

Posisi Inggris Pasca-Brexit yang Masih Rentan

Sikap defensif pemerintah memperlihatkan posisi Inggris yang masih rentan terhadap fluktuasi kebijakan Brussels. Meski sudah keluar dari Uni Eropa, Inggris belum bisa melepaskan diri dari aturan yang dibuat blok tersebut.

Ini bukan pertama kalinya Inggris harus menyesuaikan kebijakan dagangnya dengan Uni Eropa demi menjaga akses pasar. Sektor otomotif menjadi contoh paling jelas karena rantai pasoknya benar-benar terintegrasi lintas batas.

Bagi konsumen Inggris, tarif ini berpotensi menaikkan harga mobil listrik China yang selama ini dikenal kompetitif. Bagi produsen Inggris, ini soal bertahan atau kehilangan akses ke pasar terbesar mereka.

Pemerintah belum memfinalisasi aturan. Tapi arahnya sudah jelas: Inggris memilih menyelaraskan diri dengan Uni Eropa ketimbang membiarkan pasar domestiknya jadi tempat pembuangan kendaraan bersubsidi.

Sumber: otomotif.sindonews.com

Follow liputanharian.co.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks