LIPUTANHARIAN.CO.ID — Laporan terbaru Carnegie China bertajuk "Who's ahead in the global AI talent race" mengungkap 41 persen peneliti AI terkemuka dunia kini berbasis di China, melampaui Amerika Serikat yang tercatat 34 persen. Pergeseran ini terjadi seiring menguatnya industri AI dalam negeri China dan pengetatan aturan visa di AS. Temuan tersebut menandai perubahan lanskap persaingan talenta teknologi global antara kedua negara.
Laporan Carnegie China yang dirilis pekan ini menganalisis 10.280 peneliti, mewakili sekitar 40 persen dari seluruh penulis makalah yang diterima di Conference on Neural Information Processing Systems 2025, salah satu konferensi machine learning terbesar di dunia.
Mengapa Peneliti AI Berpindah ke China
Damien Ma, direktur Carnegie sekaligus salah satu penulis laporan, menyebut industri AI dalam negeri China kini punya daya tarik tersendiri. Perusahaan seperti DeepSeek dan Moonshot AI disebut telah membangun ekosistem yang tangguh.
"China telah membangun industri AI dalam negeri yang tangguh dengan dukungan perusahaan-perusahaan terkemuka seperti DeepSeek dan Moonshot AI, di mana tingkat kompensasinya kini cukup sebanding dengan yang ada di Silicon Valley," kata Damien Ma, dikutip dari South China Morning Post, Jumat (25/9).
Selain tingkat kompensasi, pengetatan pembatasan visa di AS turut mendorong peneliti memilih tetap berkarir di China. Peluang kerja lokal yang melimpah memperkuat tren ini.
China Jadi Pencetak Tenaga Ahli AI Terbesar
Sebanyak 57 persen peneliti AI tercatat menyelesaikan studi sarjana di China pada tahun lalu. Angka itu jauh meninggalkan AS yang hanya mencetak 13 persen peneliti AI dari jenjang sarjana dalam negerinya.
Tingginya jumlah lulusan dalam negeri sejalan dengan meningkatnya peneliti yang memutuskan berkarir di China. Pipeline talenta ini menjadi fondasi bagi ambisi China memperkuat posisinya dalam persaingan AI global.
AS Masih Jadi Tujuan Utama Peneliti China
Meski industri AI China menguat, AS tetap menjadi tujuan utama peneliti AI asal China yang ingin berkarir di luar negeri. Peneliti AI di AS yang meraih gelar sarjana dari China pada tahun lalu meningkat 4 persen.
Namun mobilitas warga negara kedua negara kini menghadapi hambatan. AS dan China sama-sama memperketat pengawasan terhadap transfer teknologi dan risiko keamanan nasional.
Implikasi bagi Persaingan AI Global
Temuan Carnegie China mengindikasikan pergeseran yang lebih luas dalam keseimbangan kekuatan teknologi global. Kedua negara besar bersaing meraih supremasi dalam perkembangan teknologi mutakhir.
Kehadiran fisik peneliti di China dinilai memperkuat posisi negara itu dalam persaingan AI melawan AS. Distribusi talenta menjadi indikator penting selain capaian riset dan kapasitas komputasi.
Bagi industri AI Asia Tenggara, termasuk Indonesia, pergeseran ini membuka pertanyaan soal arah aliran talenta dan kolaborasi riset ke depan. Negara yang mampu menahan penelitinya sekaligus menarik peneliti asing berpeluang lebih besar memimpin inovasi.