Pencarian

Kisah Bunda 54 Tahun di Yunani Melahirkan dari Embrio Beku 22 Tahun

Senin, 21 September 2026 • 09:21:02 WIB
Kisah Bunda 54 Tahun di Yunani Melahirkan dari Embrio Beku 22 Tahun
Cristina Rapti-Tzelepi (54) dan suaminya, Constantinos Raptis (60), menyambut kelahiran bayi perempuan dari embrio beku 22 tahun di Athena, Yunani.

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Cristina Rapti-Tzelepi (54) dan suaminya Constantinos Raptis (60) menyambut bayi perempuan dari embrio yang dibekukan selama 22 tahun di Athena. Kisah keluarga asal Yunani ini menghadirkan harapan baru setelah kehilangan putra semata wayang mereka, sekaligus membuka diskusi soal batas usia IVF dan kekuatan embrio beku.

Kelahiran Georgia Rapti di sebuah rumah sakit Athena pada Rabu, 9 September 2026 menjadi penutup perjalanan panjang pasangan Cristina dan Constantinos. Bayi perempuan dengan berat sekitar 3,5 kilogram itu lahir dari embrio yang telah dibekukan selama 22 tahun.

Angka 22 tahun membuat kisah ini jarang terjadi. Prosedur fertilisasi in vitro (IVF) yang mereka jalani bukan sekadar persoalan medis, tapi juga perjuangan melawan waktu dan aturan hukum di Yunani.

Kehilangan yang Mengubah Segalanya

Giorgos, putra semata wayang Cristina dan Constantinos, meninggal dalam kecelakaan lalu lintas pada Oktober 2025 di usia 21 tahun. Kehilangan itu meninggalkan ruang kosong yang sulit diisi.

Di tengah duka mendalam, pasangan ini memutuskan menggunakan embrio yang telah mereka simpan dalam kondisi beku selama puluhan tahun. Keputusan itu bukan jalan pintas, melainkan pilihan sadar untuk melanjutkan kisah keluarga mereka.

"Sebuah kecelakaan terjadi dan kami kehilangan anak kami. Beberapa waktu kemudian ketika masih dalam suasana duka yang mendalam, kami memutuskan untuk menggunakan embrio yang sudah kami simpan dalam kondisi beku," ujar Cristina, dikutip dari People.

Batas Usia IVF dan Jendela 2,5 Bulan

Yunani menerapkan batas usia ketat bagi perempuan yang ingin menjalani IVF. Di usia 54 tahun, Cristina hanya punya waktu sekitar 2,5 bulan untuk mengurus izin resmi sebelum melewati batas legal.

Tekanan waktu membuat proses ini berjalan cepat. Cristina mengaku harus bergerak sigap, mulai dari urusan administratif hingga persiapan medis.

"Karena keterbatasan waktu dan batas usia yang ketat yang ditetapkan dalam kerangka hukum, kami harus bertindak dengan sangat cepat. Saya hanya memiliki waktu sekitar 2,5 bulan," jelasnya.

Seberapa Langka Embrio Beku 22 Tahun?

Embrio yang digunakan Cristina dan Constantinos telah dibekukan selama 22 tahun. Menurut Associated Press (AP), rentang waktu itu tergolong sangat lama untuk embrio yang dibuahi lalu digunakan hingga menghasilkan kehamilan.

Meski demikian, rekor embrio manusia tertua yang berhasil digunakan untuk kehamilan tercatat lebih panjang. Berdasarkan Guinness World Records, ada embrio yang telah dibekukan lebih dari 31 tahun sebelum akhirnya menghasilkan kehamilan.

Georgia, Nama untuk Mengenang Giorgos

Bayi perempuan itu diberi nama Georgia sebagai penghormatan kepada mendiang putra mereka, Giorgos. Foto yang diabadikan AP memperlihatkan kedua orang tua baru tersebut menggendong putri mereka di kamar rumah sakit, dengan balon merah muda bermotif polkadot bertuliskan "It's a girl" menghiasi ruangan.

Bagi Cristina, kelahiran putrinya menjadi awal baru dan jalan keluar dari kegelapan. Ia berharap Georgia tumbuh sehat, bahagia, dan dipenuhi kegembiraan seperti anak pertama mereka yang dulu memenuhi rumah dengan tawa.

"Harapan saya untuknya adalah agar dia tumbuh sehat dan bahagia, dipenuhi kegembiraan seperti anak pertama kami yang telah memenuhi rumah dengan tawa," ujar Cristina.

Dukungan Dokter di Titik Terberat

Constantinos menggambarkan kehadiran putrinya sebagai oksigen yang membuatnya dan sang istri bisa bernapas dan melanjutkan hidup. Sebelumnya, ia mengaku hidup dalam kegelapan yang begitu pekat.

Dokter kandungan mereka, Dr. Kostas Pantos, disebut Constantinos sebagai sosok yang mendampingi selama proses IVF. Ia menggambarkan Pantos sebagai orang yang membantu mereka melewati masa sulit hingga akhirnya bisa menyambut Georgia.

"Dia menggandeng tangan kami dan menarik kami keluar dari kegelapan terdalam. Kami berhasil keluar dari kegelapan itu dan saya yakin sekarang masih banyak hal yang harus kami jalani dalam hidup," kata Constantinos.

Yang Perlu Diketahui soal IVF di Usia Lanjut

Setiap negara punya aturan berbeda soal batas usia IVF. Di Yunani, batas legal itu menjadi penentu waktu bagi Cristina. Karena itu, pasangan yang mempertimbangkan prosedur serupa sebaiknya memeriksa regulasi di wilayah masing-masing lebih dulu, termasuk syarat administratif dan usia maksimal yang diizinkan.

Pemeriksaan medis menyeluruh juga menjadi langkah wajib. Kondisi rahim, kualitas embrio, dan riwayat kesehatan ibu berperan besar dalam menentukan peluang keberhasilan. Diskusikan semuanya dengan dokter kandungan dan tim fertilitas sebelum mengambil keputusan.

Dukungan psikologis tak kalah penting, terutama bagi pasangan yang menjalani IVF setelah kehilangan anggota keluarga. Cristina mengakui proses tersebut penuh tekanan, namun dukungan keluarga, dokter, dan seluruh tim medis membantu mereka melewati setiap rintangan.

Kisah Cristina dan Constantinos menunjukkan bahwa harapan bisa datang dari tempat yang tak terduga, bahkan dari embrio yang tersimpan lebih dari dua dekade. Bagi keluarga yang sedang berjuang dengan jalur kehamilan, cerita ini bisa menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan punya waktunya sendiri.

Sumber: haibunda.com

Follow liputanharian.co.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks