LIPUTANHARIAN.CO.ID — Melewatkan sarapan sering dijadikan jalan pintas menurunkan berat badan, apalagi karena dianggap mirip puasa intermiten. Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, mengingatkan bahwa memangkas jadwal makan tanpa perhitungan justru bisa membuat target protein harian tak tercapai, memicu otot menyusut, hingga tubuh gampang sakit.
Melewatkan sarapan lalu langsung makan siang jadi jurus instan banyak orang yang ingin menurunkan berat badan. Pola ini kerap dianggap sekadar versi ringan dari intermittent fasting atau puasa intermiten.
Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menilai cara itu tidak otomatis berhasil. Tanpa perhitungan asupan yang benar, memotong jam makan justru bisa sia-sia dan berdampak buruk bagi kesehatan.
Skip Sarapan Bukan Sama dengan Puasa Intermiten
Puasa intermiten punya aturan jam makan yang jelas, termasuk kapan tubuh boleh menerima asupan dan kapan harus berhenti. Melewatkan sarapan begitu saja tidak mengikuti kerangka itu.
"Kalau intermittent fasting kan ada jam-jamnya. Kalau ini cuma cut (skip) makan pagi, terus makan siangnya juga masih berantakan, ya percuma sih," kata dr Yaze dalam siaran live detikHealth, Kamis (10/9/2026).
Artinya, manfaat yang diklaim dari puasa intermiten tidak otomatis didapat hanya karena tidak makan pagi. Yang menentukan hasil tetap kualitas dan jumlah asupan sepanjang hari.
Target Protein Harian Justru Berisiko Tak Tercapai
Dampak yang jarang disadari dari kebiasaan skip sarapan asal-asalan adalah asupan protein yang ikut merosot. Ketika frekuensi makan dipangkas, gizi penting yang dibutuhkan tubuh cenderung berkurang.
"Biasanya kita punya kebutuhan protein tadi, misalnya sehari itu 70 gram. Kalau misalnya ada cut makan pagi, terus di siang sama di malam saja makannya, enggak nyampe di 70 gram (proteinnya). Itu yang menyebabkan akhirnya target protein harian kamu itu enggak tercapai," paparnya.
Kondisi ini membuat tubuh kekurangan bahan bakar untuk memperbaiki jaringan dan menjaga massa otot, meski berat badan mungkin turun.
Cara Aman Jika Tetap Ingin Melewatkan Sarapan
Jika memang berencana memotong waktu makan pagi, dr Yaze menekankan kecukupan protein harian tetap wajib dihitung dan dipenuhi pada waktu makan berikutnya.
"Jadi kadang itu harus aku hitung. Kalau memang enggak mau makan pagi, aku harus hitung berarti di 70 gram itu dipenuhi di makan siang, sama di makan malam, sama di snack sore misalnya," terangnya.
Jadi alih-alih sekadar mengurangi porsi, ibu bisa menggeser dan menambah asupan protein di makan siang, makan malam, serta camilan sore agar totalnya tetap sesuai kebutuhan.
Bahaya Defisit Kalori Tanpa Perhatikan Nutrisi
Defisit kalori memang bagian dari strategi menurunkan berat badan. Masalahnya, banyak orang hanya fokus memangkas porsi tanpa memperhatikan kualitas nutrisi yang masuk.
"Jadi jangan langsung main cut-cut aja. Defisit kalori iya, tapi misalnya proteinnya kurang, akhirnya ya gampang sakit sampai otot ikut hilang," tegasnya.
Kekurangan protein dalam jangka panjang bisa membuat daya tahan tubuh menurun dan massa otot berkurang, sehingga berat badan turun bukan karena lemak yang berkurang.
Kapan Perlu Konsultasi ke Ahli Gizi
Bila ibu punya kondisi kesehatan tertentu, sedang menyusui, atau bingung menghitung kebutuhan protein harian, sebaiknya konsultasi ke dokter atau ahli gizi sebelum mengubah pola makan.
Pendampingan profesional membantu memastikan target berat badan tercapai tanpa mengorbankan kecukupan gizi dan massa otot.
Menurunkan berat badan tidak harus dengan melewatkan sarapan. Yang paling menentukan adalah memastikan protein dan nutrisi lain tetap terpenuhi setiap hari, sehingga tubuh tetap sehat selama prosesnya.