Pencarian

40 Ribu Balita Terpapar ISPA Asap Karhutla, DPR Minta Status KLB

Kamis, 24 September 2026 • 09:01:31 WIB
40 Ribu Balita Terpapar ISPA Asap Karhutla, DPR Minta Status KLB
Kementerian Kesehatan mencatat 174.694 kasus ISPA akibat kabut asap Karhutla pada Agustus–September 2026.

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Kementerian Kesehatan mencatat 174.694 kasus ISPA akibat kabut asap Karhutla sejak Agustus hingga September 2026, dan 40.363 di antaranya menimpa balita usia 0-5 tahun. Berikut rangkuman fakta, wilayah terdampak, dan langkah perlindungan yang perlu ibu ketahui jika tinggal di daerah berasap.

Anggota Komisi IX DPR RI, Irma Suryani Chaniago, meminta pemerintah menetapkan wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Permintaan itu muncul setelah ribuan balita dilaporkan terpapar infeksi saluran pernapasan akut akibat kabut asap.

"Akibat Karhutla ini, ISPA membayangi masyarakat terdampak dan pemerintah terutama Kemenkes harus segera menetapkan wilayah terdampak sebagai KLB karena jangkauan Karhutla semakin luas dan korban ISPA semakin banyak," kata Irma dalam keterangan persnya, Kamis (24/9).

Berapa Banyak Balita yang Sudah Terpapar ISPA?

Kemenkes mencatat 174.694 kasus ISPA Karhutla sejak Agustus hingga September 2026. Data itu dihimpun dari 63 kabupaten/kota di 7 provinsi terdampak: Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Sebanyak 40.363 pasien di antaranya adalah balita atau anak usia 0-5 tahun. Kemenkes juga menyoroti tren peningkatan kasus ISPA akibat Karhutla dibanding periode tahun sebelumnya.

Mengapa Balita Paling Rentan Terkena Dampak Kabut Asap?

Irma menilai laporan puluhan ribu balita terinfeksi ISPA menunjukkan kabut asap sudah berkembang menjadi kedaruratan kesehatan anak. Selain ISPA, kabut asap juga memicu iritasi mata hingga meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

"Bayi dan balita menghadapi risiko lebih tinggi karena sistem pernapasan dan daya tahan tubuh mereka masih berkembang. Paparan yang berlangsung berhari-hari juga dapat memperberat pneumonia, asma, serta penyakit bawaan," sebutnya.

Di media sosial, banyak orang tua di wilayah terdampak mengeluhkan kondisi serupa. Anak-anak mereka mengalami sesak, pneumonia, hingga butuh perawatan rumah sakit. Ada pula yang sampai mengeluarkan darah ketika batuk.

Seberapa Buruk Kualitas Udara di Wilayah Terdampak?

Kementerian Lingkungan Hidup melaporkan 7 provinsi terdampak Karhutla berada pada status kualitas udara "tidak sehat", "sangat tidak sehat", dan "berbahaya". Dua provinsi masuk status berbahaya, yakni Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

Di banyak daerah terdampak, partikel debu berdiameter 10 mikrometer (PM10) tercatat lebih dari 1.000 mikrogram per meter kubik. WHO menetapkan udara dinilai baik jika kandungan PM10 maksimal 45 mikrogram per meter kubik dalam 24 jam.

Apa yang Diminta DPR ke Kemenkes?

Irma mendorong Kemenkes mengoptimalkan penyaluran tenaga medis ke daerah terdampak. "Mengingat dampak Karhutla terhadap masyarakat, terutama bayi dan balita saya minta Kementerian Kesehatan wajib segera turun kan tim medis agar masyarakat terhindar dari sakit mata dan ISPA," ujarnya.

Ia juga meminta puskesmas, posyandu, dan rumah sakit aktif mendata bayi, balita, ibu hamil, serta anak dengan asma, pneumonia, dan penyakit jantung. Kelompok berisiko ini perlu pemantauan berkala, pemeriksaan dini, dan rujukan tanpa menunggu kondisi gawat.

Kesiapan layanan anak juga harus dipetakan setiap hari, mulai dari dokter, ruang perawatan, oksigen, nebulizer, obat saluran pernapasan, ambulans, hingga kapasitas rujukan.

Kapan Ibu Perlu Segera ke Dokter?

Jika anak batuk disertai sesak napas, napas berbunyi, demam tinggi, atau lemas, jangan tunda pemeriksaan. Bayi dan balita dengan asma atau pneumonia punya risiko lebih berat saat terpapar asap berhari-hari.

Irma menegaskan persoalan kepesertaan JKN, tunggakan iuran, maupun administrasi kependudukan tidak boleh menghambat penanganan kegawatdaruratan. "Termasuk tindak lanjut bagi anak yang terdampak kabut asap Karhutla, harus dijamin sepenuhnya oleh Pemerintah," tegasnya.

Sambil menunggu respons pemerintah, ibu bisa mengurangi paparan dengan menutup jendela, memakai air purifier bila ada, dan memantau kualitas udara harian di wilayah sendiri. Perlindungan terbaik dimulai dari rumah.

Sumber: mediaindonesia.com

Follow liputanharian.co.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks