SIDRAP — Rantai distribusi telur ayam ras di Kabupaten Sidrap kembali memunculkan persoalan klasik. Harga di tingkat kandang peternak saat ini hanya berkisar Rp 38.000 hingga Rp 40.000 per rak, tetapi di tingkat pengecer di Makassar tembus di angka Rp 48.000 sampai Rp 50.000 per rak. Artinya, ada selisih mencolok antara Rp 8.000 hingga Rp 10.000 per rak yang dinikmati di tengah jalur distribusi.
Kunjungan DPRD Sidrap ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sulawesi Selatan pada Kamis (20/8) lalu menjadi ajang pembahasan masalah ini. Komisi yang membidangi ekonomi ini menilai disparitas harga yang terjadi sudah berulang dan cenderung terstruktur.
Kecurigaan Permainan Harga oleh Pedagang Makassar
Anggota DPRD Sidrap, H Bahrul Appas, mencurigai kondisi ini bukan sekadar biaya logistik. Ia menduga ada oknum pedagang yang dengan sengaja menentukan harga beli di peternak secara sepihak, tanpa mengacu pada prediksi harga resmi yang dikeluarkan Pemkab Sidrap.
"Ada range harga yang mencolok. Bisa Rp 8.000 hingga Rp 10.000. Selisih mencolok ini kemungkinan karena permainan harga yang dilakukan pedagang di Makassar," ujar politisi Partai Nasdem itu, Jumat (21/8).
Harga di Peternak Dianggap Tak Sesuai HAP
Bahrul Appas menegaskan bahwa harga di tingkat peternak seharusnya berada pada angka ideal Rp 41.000 hingga Rp 43.000 per rak. Namun, patokan yang beredar di grup WhatsApp pedagang justru menyebut angka Rp 40.000 per rak, dan ini menjadi acuan transaksi.
Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa Harga Acuan Penjualan (HAP) pemerintah untuk telur ayam ras adalah Rp 26.500 per kilogram, atau setara dengan Rp 48.000 sampai Rp 50.000 per rak. "HAP pemerintah memang relatif stabil di pasar. Hanya saja, ada saja ulah pedagang yang sengaja memainkan harga di peternak," katanya.
Ancaman Stok Menumpuk di Kandang
Dampak dari rendahnya harga beli ini tidak berhenti di selisih nominal. Bahrul Appas memperingatkan bahwa permainan harga ini membuat langganan peternak, baik dari dalam maupun luar provinsi, enggan mengambil telur lantaran selisih harga yang dipatok sepihak oleh pedagang.
"Nah, kalau ini terjadi, stok telur di peternak akan tertahan dan menumpuk. Ini akan menjadi kesempatan dan dimanfaatkan para pedagang dengan seenaknya memainkan dan menurunkan harga di peternak," tandasnya.
Desakan Sidak ke Pedagang Makassar
Menanggapi situasi ini, Bahrul Appas mendesak Satgas Pangan Sidrap dan Disperindag untuk segera bergerak. Ia meminta dilakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pedagang telur di tingkat lokal hingga ke Makassar yang menjadi tujuan utama distribusi.
Langkah ini dinilai penting untuk memastikan harga telur dari hulu ke hilir tetap sesuai dengan HAP yang telah ditetapkan pemerintah. "Pemerintah harus turun menstabilkan harga telur ini, terutama di peternak demi menjaga agar mereka tetap mensuplai protein masyarakat tanpa harus rugi," pungkasnya.