Laba Antam Melonjak 34 Persen Jadi Rp 6,91 Triliun di Semester I 2026

Laba Antam naik 34 persen menjadi Rp 6,91 triliun pada semester I 2026.
Penulis: Fadhli Usman
Sabtu, 24 Oktober 2026 | 08:02:31 WIB

LIPUTANHARIAN.CO.ID — PT Aneka Tambang Tbk (Antam) membukukan laba periode berjalan Rp 6,91 triliun pada semester I 2026, naik 34 persen dari Rp 5,14 triliun di periode sama tahun sebelumnya. Lonjakan laba ini menjadi modal perusahaan pelat merah itu untuk membiayai pengembangan bisnis emas, nikel, dan bauksit, dengan hilirisasi mineral sebagai prioritas investasi jangka panjang.

Pendapatan Antam ikut menanjak 6,3 persen, dari Rp 59,02 triliun menjadi Rp 62,71 triliun. Perusahaan menempuh jalur optimalisasi kegiatan operasional dan pengembangan usaha agar nilai tambah dari portofolio komoditas mineral yang dimiliki terus meningkat.

Corporate Secretary Antam Wisnu Danandi Haryanto menyebut pertumbuhan kinerja keuangan menjadi landasan perusahaan melanjutkan pengembangan bisnis. Tata kelola dan pengelolaan keuangan ditempatkan sebagai faktor penting penopang investasi jangka panjang.

Modal Strategis di Tengah Ketidakpastian Pasar

Bagi Antam, laba yang tumbuh dua digit bukan sekadar angka di laporan keuangan. Perusahaan memaknainya sebagai bekal menjaga ketahanan industri nasional sekaligus mempertahankan kepercayaan pemegang saham.

"Kinerja ini menjadi modal strategis bagi Antam untuk melanjutkan pertumbuhan bisnis, menjaga ketahanan industri nasional, dan menjaga kepercayaan pemegang saham. Ke depan, kami akan terus mengoptimalkan potensi bisnis yang dimiliki serta memastikan tata kelola perusahaan berjalan dengan baik, terukur dan bertanggung jawab," ujar Wisnu dalam keterangan tertulis, Jumat (23/10/2026).

Perusahaan juga tengah mengevaluasi sejumlah pilihan strategis dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan kemampuan keuangan. Tujuannya memastikan kebutuhan pendanaan operasional maupun pengembangan usaha tetap terpenuhi, terutama untuk proyek yang mendukung agenda hilirisasi nasional.

Hilirisasi Mineral Jadi Arah Investasi

Pengelolaan permodalan menjadi salah satu aspek yang diperhitungkan Antam dalam menentukan arah investasi. Perusahaan berupaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekspansi, kondisi keuangan, dan kepentingan pemegang saham.

Portofolio usaha Antam mencakup komoditas emas, nikel, dan bauksit. Fokusnya bukan lagi sekadar menambang, melainkan mengolah agar nilai tambah komoditas itu tertahan di dalam negeri. Strategi ini sejalan dengan dorongan pemerintah memperkuat industri pengolahan mineral domestik.

Namun, Antam belum memerinci nilai investasi maupun jadwal proyek hilirisasi baru dalam keterangan yang disampaikan. Perusahaan hanya menegaskan bahwa kebutuhan investasi untuk pengembangan industri mineral tetap menjadi prioritas.

Buyback Saham Masih Dikaji

Di tengah dinamika pasar modal, Antam mengkaji kemungkinan pembelian kembali saham atau buyback. Opsi itu masih dalam tahap evaluasi dan belum menjadi keputusan final perusahaan.

Menurut Wisnu, setiap keputusan strategis akan mempertimbangkan kondisi pasar, kemampuan pendanaan, serta keberlanjutan bisnis. Perusahaan ingin memastikan langkah yang diambil tidak mengganggu fundamental.

"Antam senantiasa mencermati dinamika pasar dan mengevaluasi Langkah strategis yang relevan sesuai dengan kondisi terkini. Kami ingin memastikan bahwa setiap keputusan yang diambil tetap sejalan dengan penguatan fundamental perusahaan, selaras dengan kepentingan nasional, serta mendorong penciptaan nilai yang maksimal bagi pemegang saham dalam jangka panjang," kata Wisnu.

Dengan laba yang tumbuh 34 persen pada semester I 2026, Antam punya ruang lebih lebar untuk mengevaluasi kebutuhan pendanaan dan prioritas pengembangan usaha. Bagi investor, sinyal yang perlu dicermati adalah seberapa cepat ruang fiskal itu diterjemahkan menjadi proyek hilirisasi konkret, bukan sekadar rencana di atas kertas.

Reporter: Fadhli Usman