Harga Emas Dunia Anjlok 2,8% ke USD4.024,55, Terendah Sejak 20 Juli
LIPUTANHARIAN.CO.ID — Harga emas spot merosot 2,8% menjadi USD4.024,55 per ons pada perdagangan Kamis waktu New York, level terendah dalam tiga bulan atau tepat sejak 20 Juli. Lonjakan harga minyak global memicu kekhawatiran guncangan inflasi energi, sementara investor memilih meninggalkan emas dan dolar AS untuk beralih ke obligasi pemerintah AS.
Penurunan emas spot tersebut juga diikuti pelemahan kontrak emas berjangka yang turun 0,5% ke USD4.039,90 per ons, mengutip data Investing. Sepanjang pekan, logam mulia ini terus tertekan meski nilai dolar AS melemah, sebuah kombinasi yang jarang terjadi dan menandakan tekanan jual datang dari faktor lain.
Harga Minyak dan Obligasi AS Jadi Pemicu Utama
Lonjakan harga acuan minyak global menjadi pemicu utama kekhawatiran pasar terhadap guncangan inflasi sisi energi. Sentimen penghindaran risiko (risk-off) di Wall Street mendorong pedagang melepas aset berisiko, termasuk emas, dan menempatkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti US Treasuries.
Minimnya agenda ekonomi AS pekan ini turut membatasi katalis. The Fed memberlakukan blackout period atau jeda komunikasi menjelang rapat kebijakan, sehingga perhatian pasar terpusat pada dinamika harga minyak, pasar obligasi, dan pergerakan Wall Street.
Di pasar saham, investor melepas saham sektor teknologi dan layanan komunikasi yang berorientasi pertumbuhan tinggi, lalu beralih ke sektor defensif. Pemicunya adalah kekhawatiran atas besarnya utang yang diterbitkan perusahaan untuk membiayai pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Level Dukungan USD4.100 Jebol untuk Ketiga Kalinya
Analis pasar senior Trade Nation, David Morrison, menyebut emas kembali menembus level dukungan menengah di kisaran USD4.100. Posisi itu sudah jebol tiga kali bulan ini, dan dua penurunan sebelumnya hanya berlangsung singkat sebelum diikuti aksi beli.
"Pihak yang mengharapkan kenaikan harga (bulls) tentu berharap sejarah akan terulang kembali. Namun, harapan bukanlah sebuah strategi. Perlu diingat, aksi jual emas dan perak minggu ini terjadi justru di saat nilai dolar AS mengalami penurunan yang signifikan," ujar Morrison.
Ia menambahkan indikator MACD harian untuk emas dan perak belum mencapai level jenuh jual (oversold), titik yang biasanya menjadi awal reli harga tajam dan berkelanjutan. Artinya, ruang penurunan teknis masih terbuka.
Meta dan Ambisi AI Tekan Pasar Obligasi
Meta Platforms, salah satu perusahaan hyperscaler AI terkemuka, mengindikasikan kenaikan tipis pada prakiraan belanja modal dalam laporan kuartalannya. Perusahaan itu juga mengumumkan pembentukan kelas saham baru tanpa hak suara untuk menggalang modal bagi ambisi AI-nya.
Langkah tersebut menambah kekhawatiran pasar atas membanjirnya penerbitan utang korporasi untuk mendanai infrastruktur AI. Imbal hasil obligasi pemerintah AS pun tertekan, dan emas kehilangan daya tarik sebagai aset lindung nilai karena investor punya alternatif yang dianggap lebih aman.
Peter Schiff: Koreksi Emas Sudah Terlalu Dalam
Kepala ekonom dan ahli strategi global Euro Pacific Asset Management, Peter Schiff, menilai penurunan emas USD116 dalam sehari justru membuka peluang. Menurutnya, pedagang sedang bersiap menghadapi kehancuran sektor teknologi dan pembubaran posisi investasi berbasis utang (leverage) di sektor AI.
"Mungkin mereka benar dalam mengantisipasi hal tersebut, namun keliru jika menganggap harga emas juga akan ikut jatuh. Emas sudah mengalami koreksi. Kejatuhan pasar saham justru akan menjadi sentimen bullish bagi emas," ujar Schiff.
Bagi investor emas di dalam negeri, pelemahan ini bisa menjadi momen akumulasi jika melihat level dukungan USD4.000 sebagai titik pantul. Namun risikonya nyata: jika obligasi AS terus menawarkan yield menarik dan harga minyak bertahan tinggi, tekanan jual pada emas bisa berlanjut.
Katalis Berikutnya: Laporan Hyperscaler dan FOMC Oktober
Perhatian pasar kini tertuju pada laporan kuartalan perusahaan hyperscaler AI lainnya pekan depan, serta keputusan suku bunga The Fed pada Oktober. Federal Open Market Committee (FOMC) diperkirakan secara luas mempertahankan suku bunga, dan pasar akan mencermati konferensi pers yang dipimpin Kevin Warsh.
Jika The Fed memberi sinyal pelonggaran moneter, emas berpeluang kembali menguji level USD4.100. Sebaliknya, nada hawkish akan memperkuat dolar dan menekan harga logam mulia lebih jauh ke bawah USD4.000.