Bulog Jateng Serap 406.253 Ton Gabah, Lampaui Target Tahunan 108 Persen

Bulog Jawa Tengah mencatat serapan gabah 406.253 ton setara beras hingga Oktober 2026.
Penulis: Mahsyar Hamdani
Rabu, 21 Oktober 2026 | 08:41:01 WIB

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Bulog Jawa Tengah mencatat serapan gabah petani mencapai 406.253 ton setara beras hingga Oktober 2026, atau 108,43 persen dari target tahunan. Capaian itu menempatkan wilayah ini sebagai salah satu penyangga utama pengadaan beras nasional tahun ini.

Capaian tersebut menandakan pengadaan gabah di tingkat petani berjalan lebih cepat dari jadwal. Jawa Tengah dikenal sebagai salah satu lumbung padi nasional, sehingga kinerja serapan di wilayah ini berpengaruh langsung terhadap ketersediaan stok beras pemerintah.

Serapan Melampaui Target Tahunan

Realisasi 406.253 ton setara beras membuat Bulog Jawa Tengah menuntaskan target tahunan lebih awal. Persentase 108,43 persen menunjukkan ada kelebihan serapan sekitar 8 persen di atas patokan yang ditetapkan.

Kelebihan serapan itu penting bagi pengelolaan cadangan beras pemerintah. Stok yang terkumpul lebih awal memberi ruang bagi Bulog untuk menjaga ketersediaan menjelang akhir tahun, periode ketika permintaan biasanya meningkat.

Siapa yang Merasakan Dampaknya

Manfaat paling langsung dirasakan petani padi di Jawa Tengah. Dengan serapan yang tinggi, gabah hasil panen mereka terserap pasar dengan harga pembelian yang ditetapkan pemerintah, sehingga tidak menumpuk di tengah melemahnya harga saat panen raya.

Bagi masyarakat umum, stok yang terkumpul menjadi modal untuk operasi pasar dan penyaluran bantuan pangan. Ketersediaan cadangan yang memadai membantu menahan gejolak harga beras di pasar ritel, terutama di kota-kota besar yang bergantung pada pasokan dari daerah produsen.

Posisi Jawa Tengah dalam Pengadaan Nasional

Jawa Tengah selama ini menjadi salah satu kontributor terbesar pengadaan gabah dalam negeri. Kinerja serapan di wilayah ini kerap menjadi indikator awal apakah target pengadaan nasional bisa dicapai atau tidak.

Dengan realisasi yang sudah melewati target tahunan pada Oktober, perhatian kini beralih ke dua hal: menjaga mutu dan keamanan penyimpanan gabah yang sudah masuk, serta memastikan serapan tetap berjalan pada sisa tahun. Musim tanam berikutnya akan menentukan apakah tren positif ini berlanjut hingga akhir 2026.

Penutup: Bagi Bulog, angka 108,43 persen di Jawa Tengah menjadi modal menjaga stok dan stabilitas pangan, sekaligus sinyal bahwa pengadaan di daerah lumbung berjalan sesuai harapan.

Reporter: Mahsyar Hamdani