Carrefour Pangkas Proyeksi 2026, Kerugian Kerusuhan Prancis Capai Rp 4 Triliun

Carrefour memperkirakan kerugian operasional akibat kerusuhan di Prancis mencapai €80 juta hingga €200 juta.
Penulis: Muzakir Salim
Rabu, 21 Oktober 2026 | 08:01:31 WIB

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Kerugian operasional Carrefour akibat kerusuhan, penjarahan, dan jam malam di Prancis diperkirakan mencapai €80 juta hingga €200 juta, setara Rp 1,6 triliun sampai Rp 4 triliun pada kurs Rp 20.210 per euro. Rentang kerugian itu memaksa peritel asal Prancis tersebut memangkas proyeksi laba per saham dan arus kas bebas untuk 2026.

Chief Financial Officer Carrefour Matthieu Malige merinci sumber kebocoran biaya tersebut. Kerugian mencakup barang dagangan yang dicuri atau dihancurkan, kerusakan toko dan peralatan, hingga gerai yang terpaksa ditutup selama kerusuhan berlangsung.

"Biaya langsungnya mencapai puluhan juta euro, berupa barang dagangan yang dicuri atau dihancurkan, toko yang rusak, peralatan yang rusak, dan kemudian ada juga toko-toko yang terpaksa kami tutup," kata Malige kepada wartawan, dikutip dari Reuters.

Perusahaan juga harus menanggung belanja tambahan untuk mengamankan gerai, antara lain dengan menyewa petugas keamanan eksternal. Beban itu datang di saat Carrefour seharusnya bersiap menyambut periode promosi Black Friday dalam beberapa hari ke depan.

Lima Puluh Gerai Terdampak pada Hari Pertama Kerusuhan

CEO Carrefour Alexandre Bompard menyatakan perusahaan terkena dampak langsung dan cukup parah. Sekitar 50 gerai terdampak pada hari pertama kerusuhan, dengan sejumlah toko dijarah dan mengalami kerusakan besar.

Dari sekitar 6.000 gerai Carrefour di Prancis, Malige mengaku banyak yang ditutup sebagai langkah antisipasi, termasuk pada Minggu dan Senin. Ia tidak menyebut jumlah pasti gerai yang ditutup.

Jaringan gerai yang luas di kota-kota besar membuat Carrefour menjadi salah satu peritel paling terpapar. Paris, Lyon, dan Marseille termasuk wilayah yang terdampak.

Jam Malam dan Demonstrasi 24 Oktober Jadi Ancaman Berikutnya

Tekanan operasional belum berakhir. Sejumlah gerai harus tutup lebih awal karena pemberlakuan jam malam, dan Bompard memperkirakan demonstrasi lanjutan pada 24 Oktober tetap mengganggu bisnis meski pengamanan diperketat.

"Dalam beberapa minggu mendatang, kami akan terus terdampak karena beberapa toko harus tutup lebih awal karena jam malam, dan secara lebih luas kami pikir kami berada dalam situasi baru yang ditandai dengan ketidakpastian yang mendalam bagi pelanggan kami," ujar Malige.

Carrefour menyatakan membantu para pekerja membuka kembali gerai yang terdampak sesegera mungkin setelah kondisi dinilai aman. Namun perusahaan mengakui waktu pemulihan bergantung pada situasi keamanan setempat.

Kepercayaan Konsumen Melemah Sebelum Kuartal IV

Kerusuhan menambah tekanan pada kepercayaan konsumen Prancis yang sudah melemah akibat tingginya harga bahan bakar. Kondisi itu mengurangi jumlah pengunjung gerai menjelang periode perdagangan penting pada kuartal keempat.

Bagi investor, sinyal yang perlu dicermati ada pada

Reporter: Muzakir Salim