KRL INKA Masih Bermasalah Usai Sebulan Diperbaiki, 7 Perjalanan Bogor-Jakarta Dibatalkan

Rangkaian KRL Commuter Line di Depo Bukit Duri saat menjalani perawatan.
Penulis: Saifuddin Wahid
Sabtu, 17 Oktober 2026 | 08:21:32 WIB

LIPUTANHARIAN.CO.ID — PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengakui rangkaian KRL Commuter Line buatan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA masih menyisakan sejumlah catatan teknis meski sudah menjalani perawatan hampir sebulan di bengkel. Kendala itu berdampak langsung pada layanan, dengan tujuh perjalanan lintas Bogor-Jakarta Kota terpaksa dibatalkan karena dua rangkaian masih diperbaiki di Depo Bukit Duri. Persoalan ini muncul di tengah lonjakan penumpang Commuter Line Jabodetabek yang menembus 270,89 juta orang sepanjang Januari-September 2026.

Tujuh rangkaian KRL INKA masuk bengkel pada awal September 2026 dan kembali beroperasi pada 6 Oktober 2026. Namun, setelah kembali melayani penumpang, sejumlah gangguan operasional tetap ditemukan. VP Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyatakan seluruh temuan teknis itu sudah diserahkan kepada INKA selaku produsen sarana.

"Masih terdapat beberapa catatan teknis setelah rangkaian kembali beroperasi. Seluruh temuan tersebut kami sampaikan kepada INKA untuk ditangani," kata Anne dalam keterangan resmi, Jumat (16/10/2026).

Dampak ke Perjalanan Penumpang

Gangguan pada rangkaian INKA bukan sekadar catatan di atas kertas. Dua sarana yang masih menjalani perbaikan di Depo Bukit Duri membuat tujuh perjalanan KRL lintas Bogor-Jakarta Kota harus dibatalkan.

Pintu kereta yang kerap tidak tertutup sempurna menjadi salah satu keluhan yang berulang saat rangkaian ini beroperasi di jam sibuk. Kondisi itu memperlambat perjalanan dan merugikan penumpang yang bergantung pada Commuter Line untuk mobilitas harian.

KAI menyampaikan permohonan maaf kepada pelanggan yang terdampak. Perusahaan juga mengaku melakukan pengaturan perjalanan dan penyesuaian operasional untuk menekan dampak gangguan terhadap layanan secara keseluruhan.

Beban Layanan yang Terus Naik

Persoalan keandalan rangkaian menjadi kian krusial karena volume pengguna Commuter Line Jabodetabek terus tumbuh. Sepanjang Januari-September 2026, layanan ini melayani 270.891.261 pelanggan, naik 6,02 persen dibanding periode yang sama 2025 sebanyak 255.520.949 pelanggan.

"Lebih dari 270 juta perjalanan pelanggan dalam sembilan bulan menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap Commuter Line Jabodetabek. Dalam skala layanan sebesar itu, keandalan setiap rangkaian menjadi sangat penting karena satu gangguan dapat memengaruhi perjalanan lainnya, terutama pada jam sibuk," ujar Anne.

Angka itu menempatkan Commuter Line sebagai tulang punggung transportasi warga Jakarta dan sekitarnya. Artinya, setiap rangkaian yang bermasalah berpotensi mengganggu rantai perjalanan penumpang dalam jumlah besar, bukan hanya mereka yang berada di kereta yang rusak.

KAI Minta Perbaikan Tuntas

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, memastikan perusahaan mengawal serius proses perbaikan rangkaian INKA. Setiap temuan teknis diminta ditangani menyeluruh, dengan langkah korektif yang berbasis hasil pemeriksaan dan evaluasi teknis.

"Kami sangat memahami ketidaknyamanan yang dirasakan pelanggan ketika perjalanan terganggu, terlebih pada jam sibuk saat kebutuhan mobilitas sangat tinggi. Kami menangani kendala pada KRL INKA ini dengan serius. Layanan kepada masyarakat harus tetap terjaga, aman, dan nyaman," ujar Bobby dalam keterangan resmi, Jumat (16/10/2026).

Bobby menegaskan INKA sebagai manufaktur sarana harus memastikan akar masalah setiap kendala diketahui sebelum perbaikan dilakukan. KAI, lanjutnya, akan terus mengawal proses itu sampai keandalan rangkaian benar-benar terjaga dalam operasional harian.

"Kami membutuhkan tindak lanjut yang cepat dan tuntas. Setiap kendala harus diketahui akar masalahnya, kemudian diselesaikan dengan langkah korektif yang tepat. KAI akan terus mengawal proses ini sampai keandalan rangkaian benar-benar dapat dijaga dalam operasional," kata Bobby.

Anne menambahkan, ukuran keberhasilan perbaikan bukan sekadar selesainya catatan teknis, melainkan terbuktinya performa rangkaian saat melayani penumpang. Tim KAI disebut terus memantau agar setiap tindak lanjut bisa diuji langsung melalui kinerja rangkaian di lapangan.

"Ukuran akhirnya sederhana yaitu rangkaian harus andal saat digunakan melayani pelanggan. Karena itu, setiap catatan teknis harus selesai, setiap perbaikan harus terbukti hasilnya, dan layanan kepada masyarakat harus tetap terjaga. KAI akan terus mengawal hal tersebut," ujar Anne.

Bagi penumpang Commuter Line Jabodetabek, penyelesaian persoalan KRL INKA menjadi ujian nyata bagi kualitas sarana produksi dalam negeri. Dengan lebih dari 270 juta perjalanan dalam sembilan bulan, keandalan rangkaian tidak lagi soal gengsi manufaktur, melainkan menyangkut kelancaran mobilitas harian ratusan ribu warga.

Reporter: Saifuddin Wahid