Laba Bank Jumbo Kuartal III 2026 Diproyeksi Bervariasi, BMRI Unggul Momentum
LIPUTANHARIAN.CO.ID — Empat bank jumbo BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI bersiap merilis laporan keuangan kuartal III 2026 dengan proyeksi pertumbuhan laba yang bervariasi. BMRI mencatat pertumbuhan laba bank only 22,3% secara tahunan hingga Agustus 2026, tertinggi di antara empat bank besar tersebut. Pelaku pasar menanti laporan resmi sebagai konfirmasi arah kinerja sektor perbankan sekaligus penentu pergerakan IHSG.
Laporan keuangan interim empat bank jumbo menjadi salah satu agenda yang paling ditunggu pelaku pasar pada periode pelaporan kuartal III 2026. Selain menjadi tolok ukur kondisi ekonomi makro, keempat emiten ini termasuk penggerak terbesar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Mengacu data laporan bursa pada triwulan kedua tahun ini, sebanyak 956 emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) wajib menyampaikan laporan keuangan interim secara kuartalan. Empat bank jumbo yang dimaksud adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
BBCA Pimpin Laba, BBRI Unggul Pendapatan Bunga Bersih
Berdasarkan laporan keuangan bulanan hingga 31 Agustus 2026, BBCA mencatat laba bersih tahun berjalan terbesar di antara empat bank jumbo, yakni Rp 40,17 triliun. Posisi kedua ditempati BMRI dengan laba bersih Rp 37,48 triliun.
Dari sisi pendapatan bunga bersih, BBRI justru memimpin dengan nilai Rp 77,25 triliun hingga 31 Agustus 2026, disusul BMRI sebesar Rp 54,83 triliun. Posisi BBRI ditopang portofolio kredit mikro yang menjadi lini bisnis utamanya.
BMRI dan BBCA Jadi Kandidat Utama Versi Analis
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama, menilai prospek kinerja bank jumbo pada kuartal III masih cukup konstruktif meski pertumbuhannya diperkirakan bervariasi. Tiga indikator utama yang ia gunakan untuk membandingkan keempat bank adalah pertumbuhan kredit, kemampuan menjaga net interest margin (NIM), serta pertumbuhan laba bersih.
"Bank yang mampu meningkatkan penyaluran kredit dengan biaya dana yang terkendali dan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang terjaga berpeluang mencatatkan kinerja paling solid," kata Nafan kepada Katadata, dikutip Kamis (15/10).
Nafan memaparkan, BBCA memiliki keunggulan dari sisi kualitas aset, likuiditas, dan basis dana murah atau CASA. BMRI berpotensi ditopang diversifikasi kredit korporasi dan komersial. Adapun BBRI punya peluang pemulihan apabila penyaluran kredit mikro membaik dan biaya kredit mulai terkendali, sementara BBNI berpotensi memperoleh dukungan dari efisiensi operasional dan perbaikan kualitas aset.
"Untuk proyeksi kuartal ketiga 2026, saya cenderung menempatkan BMRI sebagai kandidat pemimpin pertumbuhan laba, sementara BBCA tetap unggul dari sisi besaran laba dan kualitas fundamental," ujarnya.
Pertumbuhan Laba Bank Only hingga Agustus 2026
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, melihat kinerja keempat bank akan positif, meski tantangan berupa biaya dana, NIM, dan kualitas kredit tetap membayangi. Data kinerja bank only hingga Agustus 2026 menunjukkan variasi pertumbuhan laba yang cukup lebar:
- BMRI tumbuh 22,41% secara tahunan menjadi Rp 37,48 triliun
- BBNI tumbuh 6,89% menjadi Rp 14,32 triliun
- BBRI tumbuh 6,63% menjadi Rp 32,61 triliun
- BBCA tumbuh 2,85% menjadi Rp 40,17 triliun
"Angka tersebut merupakan laba bersih bank only, bukan hasil konsolidasi," kata Elandry.
Ke depan, BMRI berpotensi menjaga pertumbuhan melalui pendapatan operasional dan pengelolaan margin. BBNI memiliki peluang dari efisiensi, sedangkan BBRI sangat bergantung pada pemulihan kualitas kredit mikro dan penurunan biaya pencadangan. BBCA tetap didukung fundamental kuat, terutama dana murah atau CASA dan kualitas aset.
Apa Artinya bagi Investor dan Pergerakan IHSG
Dari sisi kredit, pertumbuhan tetap berpeluang positif, tetapi perlu diimbangi pengelolaan likuiditas, biaya dana, dan risiko kredit. BMRI terlihat unggul dari sisi momentum pertumbuhan laba, sementara BBCA tetap kuat dari sisi stabilitas fundamental.
"Namun, proyeksi akhir kuartal III tetap perlu dikonfirmasi melalui laporan keuangan resmi," kata Elandry.
Bagi investor, laporan keuangan resmi menjadi penentu apakah tren pertumbuhan laba bank only tersebut berlanjut pada level konsolidasi. Keempat emiten ini juga menjadi penopang utama kapitalisasi pasar IHSG, sehingga arah kinerjanya berpengaruh langsung terhadap sentimen pasar secara keseluruhan.