BI Tahan Suku Bunga di 5,75%, Perluas Insentif Hedging untuk Tahan Rupiah
LIPUTANHARIAN.CO.ID — Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur 22–23 September 2026, sembari memperluas insentif lindung nilai untuk menahan tekanan terhadap Rupiah. Keputusan itu diambil saat harga minyak sempat menyentuh US$132 per barel dan kebijakan moneter global masih ketat. Bagi pelaku pasar, arah kebijakan ini menegaskan bahwa BI memilih menjaga stabilitas nilai tukar tanpa menaikkan biaya dana seluruh perekonomian.
Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan bahwa level suku bunga saat ini masih memadai untuk menjaga stabilitas. Menurutnya, stabilisasi tidak hanya ditempuh lewat suku bunga, tetapi juga melalui penguatan insentif biaya hedging.
"Karena stabilitas kita bukan hanya dengan pre-emptive daripada BI-Rate itu, tapi juga penguatan di kebijakan terkait dengan insentif biaya hedging. Di satu sisi, kita ingin mendorong pertumbuhan ekonomi karena sedang ada momentumnya," kata Destry dalam konferensi pers hasil RDG BI, Rabu (23/9).
Tekanan Eksternal Jadi Pertimbangan Utama
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat dan mendorong harga minyak sempat menyentuh US$132 per barel, sebelum turun ke bawah US$100 per barel pada 22 September 2026. Kondisi itu memperbesar risiko terhadap stabilitas Rupiah.
Dari sisi global, Fed Funds Rate berada di kisaran 3,75–4% pada September 2026. Imbal hasil US Treasury meningkat seiring ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan tingginya defisit anggaran pemerintah Amerika Serikat. Preferensi investor global terhadap aset portofolio di negara berkembang pun masih tertahan.
BI menilai situasi tersebut membutuhkan penguatan respons kebijakan untuk menjaga ketahanan eksternal dan stabilitas Rupiah. Keputusan menahan BI-Rate juga konsisten dengan upaya menjaga inflasi dalam sasaran 2,5% plus minus 1% pada 2026 dan 2027.
Inflasi Agustus Naik, Pertumbuhan Ekonomi Terjaga
Inflasi Indeks Harga Konsumen pada Agustus 2026 tercatat 3,19% secara tahunan, naik dari 2,88% pada Juli. Kenaikan terutama berasal dari kelompok volatile food yang mencapai 4,06% secara tahunan, sementara inflasi inti tetap terjaga di 2,92%.
Dari sisi pertumbuhan, BI memperkirakan ekonomi nasional tumbuh dalam kisaran 4,9–5,7% pada 2026. Kredit perbankan pada Agustus tumbuh 13,65% secara tahunan, meningkat dari 13,58% pada Juli.
Insentif Swap dan DNDF Diperbesar
BI memperluas insentif untuk instrumen lindung nilai. Untuk Swap Beli Lindung Nilai Konvensional, pengurangan premi ditingkatkan dari 12,5% untuk seluruh tenor menjadi 15% untuk tenor tiga bulan, 20% untuk enam bulan, dan 25% untuk 12 bulan.
Insentif untuk instrumen Domestic Non-Deliverable Forward juga diperbesar, dari pengurangan premi 15% menjadi 25% untuk tenor enam bulan dan 30% untuk tenor 12 bulan. Underlying pendanaan luar negeri yang dapat memperoleh insentif kini mencakup portfolio inflows, pinjaman luar negeri oleh bank, dan foreign direct investment.
Respons Ekonom: BI Pisahkan Harga Uang dan Harga Risiko Valas
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai keputusan mempertahankan BI-Rate 5,75% tepat. Menurutnya, tekanan terhadap Rupiah tidak harus direspons dengan menaikkan biaya dana bagi seluruh perekonomian.
"Keputusan mempertahankan BI Rate tepat. Tidak semua tekanan Rupiah harus dibayar dengan bunga yang lebih mahal bagi seluruh perekonomian. Yang lebih menarik justru bagaimana BI memperluas instrumen stabilisasi di luar suku bunga," ujar Fakhrul kepada Katadata, Rabu (24/9).
Fakhrul menambahkan, peningkatan insentif hedging menunjukkan BI mulai membedakan instrumen untuk menghadapi risiko suku bunga dan risiko nilai tukar.
"BI mulai memisahkan harga uang dari harga risiko valuta asing. BI Rate digunakan untuk menjaga kredibilitas inflasi dan stabilitas makro, sementara swap dan DNDF dapat digunakan lebih spesifik untuk mengurangi biaya risiko valuta asing dan menarik external funding," imbuhnya.
Menurut Fakhrul, langkah tersebut relevan dengan posisi investor asing yang masih menunggu kepastian arah kebijakan The Fed, harga minyak, dan pergerakan Rupiah.
"Dengan menurunkan biaya hedging, BI mengurangi keuntungan dari keputusan untuk terus menunggu," katanya.
Ia melihat arah kebijakan BI memiliki kemiripan dengan langkah bank sentral India yang memakai fasilitas foreign exchange swap untuk menarik pendanaan valuta asing.
"Saya justru lebih nyaman BI memulainya secara gradual. Dua puluh lima persen cukup untuk menguji respons pasar. Kalau inflow membaik, tidak ada alasan memberikan subsidi lebih besar dari yang diperlukan," urai Fakhrul.