LIPUTANHARIAN.CO.ID — Harga minyak mentah Brent menembus 102 dolar AS per barel pada Jumat (18/9/2026), melonjak 54,07 persen secara tahunan akibat eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran. Tekanan global itu merambat ke ekonomi rumah tangga Indonesia lewat kenaikan harga energi, pelemahan rupiah ke Rp 17.750 per dolar AS, dan inflasi yang menggerus pendapatan riil.
Serangan rudal balistik dan pesawat nirawak di Timur Tengah tidak hanya menyasar pangkalan militer, tetapi juga fasilitas energi, tanker, dan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz. Jalur perdagangan energi dunia itu terganggu, dan harga minyak pun meroket. Mengutip data Trading Economics, Brent naik 12,13 persen dibandingkan periode yang sama bulan lalu.
Tekanan tidak berhenti di harga energi. Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, menaikkan suku bunga acuan 0,25 persen ke level 3,75-4 persen. Keputusan itu mempersempit selisih imbal hasil dan membuat investor kembali melirik aset denominasi dolar AS.
Rupiah Tertekan, Imbal Hasil SBN Ikut Tergerus
Menyusul keputusan The Fed, imbal hasil US Treasury tenor sepuluh tahun mencapai 5 persen. Selisih imbal hasil dengan surat berharga negara (SBN) menyempit menjadi hanya 2,14 persen.
Nilai tukar rupiah bergerak ke kisaran Rp 17.750 per dolar AS. Sepanjang September 2026, rupiah melemah sekitar 0,12 persen, sementara depresiasi secara tahun kalender berjalan sudah mencapai 6,12 persen. Bank Indonesia sebelumnya sudah mengantisipasi kenaikan suku bunga The Fed, tetapi tekanan terhadap pasar keuangan domestik tetap terasa.
Inflasi Pangan dan Energi Gerus Pendapatan Rumah Tangga
Kenaikan harga barang global, terutama energi dan pangan, mendongkrak inflasi domestik. Badan Pusat Statistik melaporkan inflasi Agustus 2026 sebesar 0,21 persen secara bulanan dan 3,19 persen secara tahunan. Kelompok pangan menjadi salah satu pendorong dengan andil 0,17 persen bulanan dan 1,13 persen tahunan.
Guru Besar Ekonomi Universitas Airlangga Rahma Gafmi menjelaskan disrupsi rantai pasok global dan pelemahan rupiah berisiko mendongkrak harga barang impor, energi, serta bahan pangan.
"Kenaikan harga barang global, terutama energi dan pangan, mendongkrak inflasi domestik. Ketika harga kebutuhan pokok meningkat tanpa diimbangi kenaikan pendapatan yang sepadan, daya beli riil rumah tangga tergerus secara langsung," ujarnya saat dihubungi dari Jakarta.
Klaim Jaminan Kehilangan Pekerjaan Melonjak, Upah Riil Melemah
Kajian Stabilitas Keuangan No 47 Agustus 2026 oleh BI menilai ketahanan sektor rumah tangga, terutama kelompok pendapatan menengah bawah, menghadapi tekanan dari pasar tenaga kerja dan perlambatan pertumbuhan upah. Kapasitas pembayaran kredit pun berpotensi menurun.
Tekanan itu tecermin dari peningkatan klaim Jaminan Kehilangan Pekerjaan dari 164.084 kasus pada Mei 2025 menjadi 193.725 kasus pada Mei 2026. Dari sisi pendapatan, pertumbuhan upah riil berada dalam tren penurunan dan berada di bawah pertumbuhan upah minimum provinsi.
- Pertumbuhan upah riil 2026 diproyeksikan 2,48 persen, turun dari realisasi 2025 sebesar 3,58 persen.
- UMP tumbuh 5,82 persen, jauh di atas pertumbuhan upah riil.
- NPL KPR nonsubsidi kelas bawah menembus 5,24 persen pada triwulan II-2026.
- NPL KPR nonsubsidi kelas menengah mencapai 4,86 persen.
Risiko Gagal Bayar Meningkat pada KPR
Penurunan upah riil menekan kapasitas pembayaran cicilan kredit kelompok menengah bawah dengan bantalan keuangan terbatas. Risiko gagal bayar meningkat, terutama pada kredit bernilai besar dan bertenor panjang seperti KPR.
BI mencatat kualitas KPR nonsubsidi kelompok masyarakat bawah dan menengah sudah masuk golongan risiko tinggi. Kenaikan suku bunga acuan The Fed menambah tekanan bagi rumah tangga, seiring ruang pelonggaran kebijakan moneter domestik yang semakin sempit.
Bagi investor, kombinasi pelemahan rupiah, imbal hasil SBN yang tergerus, dan naiknya risiko kredit perumahan menjadi sinyal waspada terhadap sektor konsumsi dan perbankan. Pelaku bisnis di sektor transportasi dan distribusi juga menghadapi kenaikan biaya energi yang sulit dihindari dalam waktu dekat.