BTN Catat Laba Rp 2,4 Triliun, Terbitkan Obligasi Rp 2 Triliun

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menyampaikan keterangan pers terkait kinerja keuangan perseroan di Jakarta, Senin (31/8).
Penulis: Fadhli Usman
Selasa, 01 September 2026 | 10:07:31 WIB

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Kinerja keuangan BTN pada semester I 2026 ditopang oleh segmen nonperumahan yang tumbuh signifikan. Penyaluran kredit di segmen ini melonjak 46,1 persen secara tahunan menjadi Rp 85,22 triliun, dari sebelumnya Rp 58,34 triliun.

Adapun kredit perumahan, yang menjadi bisnis utama BTN, tumbuh lebih moderat sebesar 4,8 persen menjadi Rp 332,88 triliun. Dari total tersebut, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi masih mendominasi dengan penyaluran Rp 196,96 triliun, naik 8,1 persen dari Rp 182,17 triliun.

Selain itu, BTN telah menyalurkan Kredit Program Perumahan (KPP) sebesar Rp 4,1 triliun per Juni 2026. Produk ini baru diluncurkan pada akhir Oktober 2025.

"Kami optimistis hingga akhir tahun nanti, kinerja BTN tetap on track melanjutkan catatan positif di paruh pertama tahun ini," ujar Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu dalam keterangan tertulis, Kamis (16/7).

Obligasi Rp 2 Triliun: Pilih Rupiah, Bukan Global Bonds

Untuk memperkuat struktur pendanaan, BTN berencana menerbitkan obligasi berdenominasi rupiah senilai sekitar Rp 2 triliun pada September 2026. Nixon mengatakan penerbitan masih menunggu kondisi pasar, tetapi perseroan menargetkan aksi korporasi ini rampung dalam waktu dekat.

"Besarannya, kami masih lihat pasar. Tapi dalam waktu dekat kami akan umumkan bonds. Bulan ini. Targetnya sih Rp 2 t," kata Nixon di Menara 2 BTN, Jakarta, Senin (31/8).

Penerbitan surat utang ini sengaja tidak menggunakan denominasi valuta asing. Menurut Nixon, global bonds dinilai tidak sesuai kebutuhan perseroan di tengah kondisi nilai tukar rupiah yang melemah.

"Global bonds memang kami tidak perlu, karena kurs kan kayak begini [melemah]. Kami butuhnya buat rupiah," jelasnya.

Tabungan Emas Digital Masih Menunggu Izin OJK dan BI

Selain pendanaan, BTN tengah menyiapkan layanan tabungan emas digital yang akan diintegrasikan dengan aplikasi mobile banking Bale by BTN. Pada tahap awal, layanan ini akan fokus pada fitur cicil emas.

Nixon menyebut layanan tersebut masih dalam proses perizinan di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI). Perseroan belum bisa memastikan waktu peluncuran karena harus melalui serangkaian pengujian.

"Masih proses perizinan. Nanti dicek ketentuannya, teknologinya, keamanannya, kesiapan infrastrukturnya. Jadi it will take time," kata Nixon.

BTN berharap proses perizinan dapat tuntas sebelum akhir 2026 sehingga layanan tabungan emas digital bisa segera diluncurkan. Rencananya, fitur dan produk akan ditambah secara bertahap setelah layanan resmi beroperasi.

Reporter: Fadhli Usman