Antam Raup Laba Rp 6,91 Triliun di Semester I 2026, Emas Masih Jadi Andalan

Antam membukukan laba bersih Rp 6,91 triliun pada semester I 2026, ditopang penjualan emas sebesar Rp 50,39 triliun.
Penulis: Saifuddin Wahid
Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:01:01 WIB

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Kinerja keuangan Antam pada paruh pertama tahun ini menunjukkan akselerasi yang solid. Selain laba bersih yang menembus Rp 6,91 triliun, pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) perseroan juga tumbuh 35% menjadi Rp 9,62 triliun.

Direktur Utama Antam, Untung Budiharto, mengatakan perseroan terus mengoptimalkan kapasitas produksi di seluruh lini bisnis. Menurutnya, kinerja produksi dan penjualan tetap terjaga di tengah dinamika industri pertambangan dan fluktuasi pasar.

Emas dan Nikel Jadi Penopang Utama

Penjualan bersih Antam mencapai Rp 62,71 triliun pada semester I 2026, tumbuh 6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penjualan domestik mendominasi dengan kontribusi Rp 60,15 triliun atau 96% dari total penjualan.

Emas masih menjadi mesin utama bisnis Antam. Sepanjang Januari–Juni 2026, perseroan menjual 18,08 ton emas dengan nilai Rp 50,39 triliun. Sementara itu, produksi emas dari tambang perseroan tercatat 433 kg.

Segmen nikel juga menunjukkan pertumbuhan signifikan. Penjualan nikel melonjak 32% menjadi Rp 10,41 triliun, menyumbang 17% dari total penjualan. Antam memproduksi 7,78 juta wet metric ton (wmt) bijih nikel dan membukukan penjualan 6,77 juta wmt.

Produksi feronikel mencapai 7.788 ton nikel dalam feronikel (TNi), dengan penjualan meningkat 32% menjadi 7.605 TNi.

Segmen Bauksit dan Alumina Ikut Tumbuh

Segmen bauksit dan alumina menyumbang 3% terhadap penjualan Antam atau senilai Rp 1,88 triliun, naik 28% dari periode yang sama tahun lalu. Produksi bauksit mencapai 1,28 juta wmt, sedangkan penjualannya tumbuh 24% menjadi 1,26 juta wmt.

Antam juga meningkatkan produksi chemical grade alumina (CGA) sebesar 12% menjadi 100.257 ton. Adapun penjualan alumina naik 10% menjadi 100.437 ton.

Laba Kotor dan Usaha Meningkat Tajam

Efisiensi operasional terlihat dari pertumbuhan laba kotor yang naik 32% menjadi Rp 10,85 triliun. Laba usaha juga meningkat 38% menjadi Rp 8,44 triliun dibandingkan Rp 6,14 triliun pada semester pertama 2025.

Kinerja Antam turut ditopang kenaikan penghasilan lain-lain sebesar 41% menjadi Rp 559,37 miliar. Peningkatan tersebut terutama berasal dari keuntungan selisih kurs dan bagian laba entitas asosiasi.

Dengan capaian tersebut, laba bersih per saham dasar Antam menjadi Rp 265,85 per saham, meningkat 36% dibandingkan Rp 195,43 per saham pada periode yang sama tahun lalu.

Posisi Keuangan yang Kuat

Dari sisi neraca, total aset Antam mencapai Rp 61,27 triliun pada semester pertama 2026, naik 27% dibandingkan Rp 48,38 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Ekuitas perseroan juga meningkat 14% menjadi Rp 38,53 triliun.

Antam mempertahankan posisi likuiditas dengan kas dan setara kas sebesar Rp 9,23 triliun hingga akhir Juni 2026. Menurut Untung, posisi tersebut memberikan fleksibilitas finansial bagi Antam untuk menjaga kebutuhan operasional, likuiditas, serta mendukung pelaksanaan proyek strategis perusahaan.

Pertumbuhan kinerja Antam pada semester pertama tahun ini sejalan dengan tren kenaikan harga emas global yang masih bertahan di level tinggi. Dengan dominasi emas yang mencapai 80% dari total penjualan, Antam berada di posisi yang menguntungkan untuk memanfaatkan kondisi pasar tersebut.

Reporter: Saifuddin Wahid