Harga Emas Anjlok 2% ke US$ 2.350, Pidato Hawkish The Fed Jadi Pemicu

Harga emas global anjlok dua persen ke level US$ 2.350 per troy ons.
Penulis: Ridwan Azhari
Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:19:32 WIB

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Penurunan tajam ini merupakan respons langsung pasar terhadap sinyal bank sentral AS yang menegaskan sikapnya untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Sikap tersebut secara fundamental mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil (yield). Data terbaru menunjukkan posisi dolar AS menguat ke level tertingginya dalam dua pekan terakhir, memperberat tekanan jual di pasar logam mulia.

Koreksi ini memangkas hampir seluruh keuntungan emas yang sempat tercatat sepanjang bulan lalu. Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa di kisaran US$ 2.450 per troy ons, didorong aksi beli bank sentral global dan ketegangan geopolitik.

Faktor Utama di Balik Aksi Jual Besar-besaran

Pemicu utama koreksi adalah pernyataan terbaru dari pejabat Federal Reserve yang menolak memberikan sinyal kapan pemangkasan suku bunga akan dilakukan. Pasar sebelumnya memperkirakan pemangkasan bisa terjadi pada kuartal ketiga tahun ini, namun pernyataan tersebut menggeser ekspektasi ke periode yang lebih lama.

Selain itu, data ekonomi AS yang dirilis pekan ini menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja. Angka klaim pengangguran mingguan turun di bawah ekspektasi analis, memberi ruang bagi The Fed untuk tetap bertahan dengan kebijakan ketatnya.

Dampak ke Pasar dan Investor Indonesia

Bagi investor Indonesia, koreksi ini menjadi momentum untuk mengevaluasi ulang alokasi aset. Harga emas batangan Antam di dalam negeri biasanya mengikuti pergerakan harga global, meski dengan selisih kurs rupiah yang fluktuatif. Dengan pelemahan rupiah di pasar domestik, penurunan harga emas global tidak sepenuhnya terkonversi ke harga lokal.

Analis komoditas menilai level support berikutnya berada di kisaran US$ 2.320 per troy ons. Jika level ini ditembus, potensi koreksi lebih dalam menuju US$ 2.280 terbuka lebar. Sebaliknya, resistance terdekat berada di level psikologis US$ 2.400.

Investasi pada logam mulia tetap menjadi instrumen lindung nilai (hedging) jangka panjang, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global. Namun, dalam jangka pendek, volatilitas harga dipastikan masih akan tinggi seiring dengan rilis data inflasi AS berikutnya yang dijadwalkan akhir bulan ini.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Ridwan Azhari