Produksi Kakao Sulteng Capai 126 Ribu Ton, Pemprov Buka Keran Investasi Pabrik Hilir
LIPUTANHARIAN.CO.ID — Besarnya volume panen kakao di Sulawesi Tengah dinilai belum sebanding dengan kapasitas pengolahan yang ada. Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Sulteng, Muhammad Neng, mengatakan hilirisasi menjadi kunci agar komoditas ini memberi efek ekonomi yang lebih besar bagi daerah.
"Kami sangat membutuhkan investor untuk membangun industri hilirisasi kakao di Sulteng," ujarnya, Rabu (26/8).
Parigi Moutong Kuasai Produksi, Poso dan Donggala Menyusul
Data dinas mencatat Parigi Moutong menghasilkan 29.683 ton kakao, atau setara 23,46 persen dari total produksi provinsi. Disusul Poso dengan 22.486 ton dan Donggala 17.838 ton.
Kabupaten Sigi dan Banggai masing-masing menyumbang 17.524 ton dan 16.621 ton. Sisanya tersebar di Morowali Utara (8.158 ton), Tolitoli (7.521 ton), serta Buol (3.567 ton).
Morowali mencatat produksi 882 ton, disusul Banggai Kepulauan 257 ton, dan Banggai Laut 167 ton. Kota Palu menjadi daerah dengan produksi terkecil, hanya 4,62 ton.
Peremajaan Tanaman Bakal Gandakan Produktivitas
Peluang pengembangan industri hilir semakin terbuka setelah Kementerian Pertanian menyalurkan 18,7 juta bibit kakao dalam dua tahun terakhir. Program ini dirancang untuk meremajakan tanaman tua yang produktivitasnya menurun.
Muhammad memperkirakan produktivitas hasil peremajaan bisa meningkat dua kali lipat dibanding kondisi saat ini, setelah tanaman tumbuh optimal dalam tiga hingga empat tahun ke depan. Artinya, volume produksi Sulteng berpotensi melonjak lebih tinggi lagi pada masa mendatang.
"Kami punya lahan dan ada produksi, bagaimana kalau ada pabrik, tentu lebih tinggi produksinya," kata Muhammad.
Rantai Industri Kakao Dinilai Masih Terputus
Pemerintah daerah menilai penguatan komoditas tidak cukup hanya dari sisi hulu. Kualitas biji kakao, kapasitas petani, akses pembiayaan, hingga nilai tambah harus diperkuat secara bersamaan agar pertumbuhan sektor ini berdampak nyata bagi petani.
Tanpa pabrik pengolahan, kakao Sulteng selama ini berhenti sebagai komoditas mentah yang nilai ekonominya rendah. Kehadiran investor diharapkan memutus rantai tersebut sehingga petani menikmati harga yang lebih baik.
Dengan lahan yang tersedia dan produksi yang terus meningkat, Sulteng menawarkan potensi besar bagi industri pengolahan kakao, mulai dari pasta kakao, bubuk, hingga lemak kakao yang menjadi bahan baku industri makanan dan kosmetik.