AliExpress Tertangkap Memindai Audio PC untuk Lacak Pengguna, Ini Dampaknya
LIPUTANHARIAN.CO.ID — Seorang pengembang bernama Matt Callaghan menemukan praktik mencurigakan saat menyelidiki masalah pada headphone nirkabelnya. Ia mendapati halaman AliExpress yang terbuka di browser Firefox atau Chrome secara diam-diam memproses sinyal audio melalui Web Audio API, sebuah teknologi browser yang biasanya digunakan untuk memutar atau menganalisis suara.
Yang menjadi perhatian, proses ini berjalan tanpa menghasilkan suara apa pun yang terdengar oleh pengguna. Alih-alih memutar audio, skrip tersebut membangun grafik audio menggunakan osilator untuk menghasilkan gelombang, lalu menganalisis hasilnya. Semua data yang terkumpul kemudian dienkripsi dan dikirim ke server telemetri Alibaba.
Metode ini dikenal sebagai audio fingerprinting, sebuah teknik pelacakan yang memanfaatkan karakteristik unik perangkat keras audio dan browser setiap pengguna. Informasi yang dihasilkan dapat digunakan untuk mengidentifikasi perangkat secara konsisten, bahkan ketika pengguna menghapus cookie atau menggunakan mode penyamaran.
Mengapa Audio Bluetooth Multipoint Terganggu
Callaghan awalnya menyadari keanehan ini ketika audio dari ponselnya berhenti terputar setelah ia membuka halaman utama AliExpress di PC. Padahal, tidak ada media apa pun yang sedang diputar di komputernya.
Masalah ini terjadi karena skrip yang berjalan di halaman AliExpress terus memproses grafik audio meskipun volume diatur nol. Aktivitas ini membuat browser tetap memegang kendali atas saluran audio, sehingga headphone Bluetooth multipoint tidak bisa berpindah sumber audio dari PC ke ponsel secara otomatis.
Menutup tab AliExpress langsung memulihkan fungsi normal headphone. Sementara itu, mematikan suara tab, browser, atau bahkan volume Windows tidak menyelesaikan masalah karena proses pemrosesan audio tetap berjalan di latar belakang.
Data yang Dikumpulkan Lebih dari Sekadar Audio
Investigasi lebih lanjut mengungkap bahwa skrip yang diberi nama collina.js dan fireyejs.js ini tidak hanya mengumpulkan data audio. Kode tersebut juga merekam berbagai informasi perangkat seperti dimensi layar, kapasitas memori, plugin browser, rendering WebGL, format audio dan video yang didukung, hingga pola pergerakan mouse.
Seluruh data ini diserialisasi dan dienkripsi sebelum dikirim ke layanan telemetri Alibaba menggunakan fungsi fetch() atau sendBeacon(). Praktik ini menunjukkan upaya pengumpulan data yang sistematis dan tersembunyi dari pengetahuan pengguna.
Bagi pengguna di Indonesia yang sering bertransaksi di AliExpress, temuan ini menjadi pengingat bahwa platform e-commerce global dapat menjalankan pelacakan agresif di balik layar. Data perangkat yang terkumpul berpotensi digunakan untuk membangun profil pengguna yang sangat detail.
Tanggapan Firefox dan Brave
Menyikapi temuan ini, Mozilla melalui akun resminya di X menyatakan bahwa Firefox telah memiliki perlindungan bawaan terhadap teknik fingerprinting. Sejak rilis Firefox 118 pada September 2023, browser tersebut telah menambahkan proteksi khusus terhadap fingerprinting berbasis Web Audio.
Browser Brave juga mengklaim memblokir audio fingerprinting secara default. Caranya dengan menyuntikkan data acak ke dalam output audio browser, sehingga sidik jari digital yang dihasilkan akan berbeda setiap sesi dan tidak bisa digunakan untuk melacak pengguna secara konsisten.
Pengguna Chrome dan browser berbasis Chromium lainnya belum memiliki perlindungan serupa secara bawaan. Untuk mengurangi risiko pelacakan, pengguna bisa mempertimbangkan menggunakan browser dengan fokus privasi atau memasang ekstensi pemblokir skrip saat mengakses situs yang mencurigakan.
Temuan Callaghan ini menegaskan bahwa praktik pelacakan pengguna di web semakin canggih dan tersembunyi. Kesadaran akan teknik-teknik ini menjadi langkah pertama untuk melindungi privasi digital di tengah maraknya pengumpulan data oleh perusahaan teknologi besar.