VW Buka Ancaman Tutup Pabrik di Jerman, Bos Sebut Kondisi Perusahaan Lebih dari Kritis

CEO Volkswagen Group, Oliver Blume, menyatakan kondisi perusahaan saat ini lebih dari kritis dalam pesan internal kepada pekerja.
Penulis: Ridwan Azhari
Selasa, 25 Agustus 2026 | 08:33:01 WIB

LIPUTANHARIAN.CO.ID — CEO Volkswagen Group, Oliver Blume, menyampaikan peringatan keras menjelang pertemuan internal dengan perwakilan pekerja di berbagai fasilitas perusahaan di Jerman. Ia menyebut tingkat profitabilitas saat ini tidak cukup untuk membiayai pengembangan teknologi dan produk baru dalam jangka panjang.

"Situasi yang kami hadapi saat ini lebih dari kritis," ujar Blume dalam wawancara yang dipublikasikan di intranet perusahaan, dikutip dari AFP, Senin (24/8).

Empat Pabrik Terancam Tidak Efisien pada 2030-an

Blume mengidentifikasi setidaknya empat lokasi produksi yang diprediksi kesulitan mencetak keuntungan pada awal dekade berikutnya. Fasilitas di Emden, Hannover, Zwickau, dan Neckarsulm disebut tidak memiliki prospek finansial yang sehat jika tidak segera direstrukturisasi.

"Kami saat ini tidak dapat melihat cara agar (pabrik) di Emden, Hannover, Zwickau dan Neckarsulm tetap menguntungkan pada 2030an," jelasnya.

Meski demikian, Blume menegaskan penutupan pabrik adalah opsi terakhir yang belum diputuskan secara final. Perusahaan masih mencari alternatif penggunaan lahan dan fasilitas produksi yang berpotensi dihentikan.

Pabrik Osnabrueck Dilirik Industri Pertahanan

Salah satu lokasi yang tengah dicarikan solusi adalah pabrik di Osnabrueck. Manajemen VW dikabarkan sedang melakukan pembicaraan lanjutan dengan sejumlah perusahaan dari sektor industri pertahanan untuk memanfaatkan fasilitas tersebut sebagai lokasi produksi alternatif.

Selain ancaman penutupan pabrik, Volkswagen juga dihadapkan pada persoalan kelebihan kapasitas produksi di kawasan Eropa. Blume memperkirakan volume produksi berlebih mencapai sekitar 500 ribu unit kendaraan per tahun.

Tekanan Tarif AS dan Konflik Global Perberat Beban VW

Persaingan dari produsen China bukan satu-satunya tantangan yang membebani kinerja VW. Blume menyoroti kebijakan tarif Amerika Serikat (AS), ketegangan perang di Timur Tengah, serta meningkatnya beban regulasi sebagai faktor eksternal yang memperburuk kondisi industri otomotif Jerman.

Alih-alih melihat peluang perbaikan, Blume justru memperingatkan risiko global berpotensi semakin meningkat. "Sebaliknya, kita harus berasumsi bahwa risiko akan semakin memburuk di seluruh dunia," pungkasnya.

Langkah restrukturisasi ini menjadi ujian besar bagi VW yang selama ini dikenal sebagai salah satu pilar industri manufaktur Jerman. Keputusan final terkait masa depan pabrik dan tenaga kerja akan menentukan arah kompetisi VW melawan pemain baru asal China yang kini menguasai pangsa pasar kendaraan listrik global.

Reporter: Ridwan Azhari