Karhutla Kaltim Tembus 1.000 Hektare, Berau Terparah dengan 400 Hektare Lebih Terbakar

Petugas BPBD memantau titik api di kawasan lahan yang terbakar di Berau, Kalimantan Timur, Senin (24/8/2026).
Penulis: Muzakir Salim
Selasa, 25 Agustus 2026 | 03:15:31 WIB

BALIKPAPAN — Luasan lahan terbakar di Kalimantan Timur mencapai sedikitnya 1.043,4 hektare. Angka ini dihimpun dari laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim yang disampaikan dalam rapat terbatas antisipasi kemarau panjang, Senin (24/8/2026). Angka riil di lapangan berpotensi lebih besar karena luasan kebakaran di Berau dilaporkan melebihi 400 hektare.

Kepala BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan memaparkan, dari total luasan tersebut, Kutai Kartanegara menyusul dengan 219 hektare dan Kutai Barat 147 hektare. Catatan ini menjadikan Kaltim berada di peringkat kesembilan nasional sebagai daerah rawan karhutla.

Peta Sebaran Titik Api di 10 Kabupaten dan Kota

Data BPBD Kaltim menunjukkan sebaran lahan terbakar yang tidak merata. Berau mendominasi dengan kerusakan paling luas, sementara Balikpapan hanya mencatatkan 0,5 hektare.

  • Berau: lebih dari 400 hektare
  • Kutai Kartanegara: 219 hektare
  • Kutai Barat: 147 hektare
  • Paser: sekitar 89,3 hektare
  • Kutai Timur: sekitar 89,3 hektare
  • Penajam Paser Utara: 48,1 hektare
  • Samarinda: 40,5 hektare
  • Mahakam Ulu: 7 hektare
  • Bontang: 3 hektare
  • Balikpapan: 0,5 hektare

Status Siaga Bencana Ditetapkan, 186 Kelompok Tani Peduli Api Dikerahkan

Pemprov Kaltim menetapkan status Siaga Bencana sebagai respons atas meluasnya titik panas. BPBD kabupaten dan kota, TNI, Polri, serta perusahaan swasta diterjunkan untuk mencegah kebakaran menyebar ke area lain.

Dinas Perkebunan Kaltim turut mengerahkan 186 Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) yang tersebar di 10 kabupaten dan kota. Mereka berkoordinasi dengan Brigade Pengendalian Kebakaran Lahan dan Kebun (Dalkarlabun) untuk memperkuat pencegahan di tingkat lapangan.

Gubernur: Efek Asap dan Krisis Air Bersih Mulai Terasa

Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud mengingatkan dampak karhutla tidak hanya soal lahan, tetapi juga kesehatan warga. Meski kebakaran belum merambah pemukiman, sebaran asap mulai mengganggu pernapasan dan berpotensi memicu penyakit ISPA.

"Mungkin kebakaran saat ini belum merambah pemukiman. Tapi efek asapnya sudah mulai dirasakan. Dan ini bisa membahayakan kesehatan kita, seperti gangguan ISPA," ujar Rudy dalam rapat di Harum Resort Balikpapan.

Cuaca panas ekstrem juga menekan ketersediaan air bersih. Sejumlah sumber air mulai mengering, yang berisiko memicu penyakit kulit di tengah masyarakat.

"Ketersediaan air yang terus menipis, selain terbatas stok air bersih untuk konsumsi dan lainnya. Juga, kekurangan air bisa memicu munculnya penyakit kulit. Tolong ingatkan warga kita semua," ungkapnya.

Rudy menegaskan penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Peran aktif masyarakat untuk tidak membakar lahan maupun sampah secara sembarangan menjadi kunci utama pencegahan.

"Bencana ini masalah bersama dan dampaknya dirasakan semua orang. Maka harus kita hadapi bersama-sama bagaimana mengatasi dan mengantisipasinya, terlebih peran aktif masyarakat," kata Rudy.

Reporter: Muzakir Salim