Pelayanan Kantor Desa Gunungsari Rembang Lumpuh Saat Jam Kerja, Warga Urus KIS Terpaksa Ditolak
REMBANG — Suremi, warga Desa Gunungsari, terpaksa memutar haluan ke Mal Pelayanan Publik (MPP) Kabupaten Rembang setelah mendapati Kantor Desa Gunungsari tutup total. Padahal, ia hanya butuh surat pengantar untuk mengaktifkan kembali KIS miliknya yang akan digunakan kontrol berobat ke rumah sakit.
"Tadi ke balai desa mau minta surat pengantar. Tapi tidak ada satu pun perangkat di desa, kantornya tutup," keluhnya, Kamis (13/2/2025).
Seluruh Perangkat Ikut Karnaval, Kantor Ditinggal Kosong
Pengosongan kantor desa itu dibenarkan oleh Kepala Desa Gunungsari, Kemis. Ia menyebut seluruh stafnya sedang mendampingi agenda karnaval di tingkat kecamatan, sehingga pelayanan administrasi terpaksa dihentikan sementara.
"Sementara balai desa tutup karena mendampingi atau mengikuti kegiatan karnaval kecamatan," ujar Kemis melalui pesan singkat.
Praktik ini memicu pertanyaan besar: apakah agenda seremonial lebih penting daripada hak warga atas layanan dasar? Padahal, kebutuhan administrasi seperti surat pengantar KIS tidak bisa ditunda, terutama bagi warga yang membutuhkan akses layanan kesehatan segera.
Camat Kaliori Berjanji Lakukan Pembinaan ke Perangkat Desa
Camat Kaliori, Dwi Susilowati, merespons cepat aduan warga tersebut. Pihak kecamatan berjanji akan mengevaluasi dan memberikan pembinaan kepada Pemerintah Desa Gunungsari agar kejadian serupa tidak terulang.
"Terima kasih atas informasinya. Hal ini akan kami jadikan dasar untuk melakukan pembinaan," kata Dwi Susilowati.
Warga Desak Sistem Piket Wajib di Balai Desa
Suremi berharap Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinpermades) Kabupaten Rembang turun tangan. Ia mendesak adanya sistem piket bergantian yang mewajibkan minimal satu perangkat desa tetap berada di kantor saat jam kerja.
Langkah ini dinilai krusial agar pelayanan dasar dan darurat bagi masyarakat tetap berjalan, meski ada agenda perayaan di luar kantor. Jika tidak, warga yang paling rentan—seperti pasien yang membutuhkan rujukan berobat—akan terus menjadi korban kelalaian birokrasi.