Reza Arap Terima Kritik Film Harusnya Horror Rating 5/10, Begini Sikap Dewasanya
LIPUTANHARIAN.CO.ID — Dunia perfilman Indonesia kembali ramai dengan debut Reza Arap sebagai sutradara lewat film Harusnya Horror. Namun, yang menjadi sorotan bukan hanya filmnya, melainkan juga sikap dewasa Reza Arap saat menerima kritik pedas atas karya perdananya tersebut.
Rating 5/10 dari Kritikus Film
Akun Instagram punditfilm, yang dikenal kerap mengulas film dengan tajam, memberikan rating 5/10 untuk Harusnya Horror. Dalam ulasannya, mereka mengakui premis film ini sebenarnya menarik: sekelompok kreator konten yang kesulitan keuangan bekerja sama dengan hantu kurang percaya diri demi membuat konten viral dan menakuti 100 ribu orang.
Sayangnya, eksekusi komedi dalam film ini dinilai belum maksimal. Beberapa punchline disebut sering meleset, dan gaya humornya yang sangat khas konten Reza Arap terasa lebih mudah diterima oleh penggemar setianya.
Kritik yang Membangun, Bukan Menjatuhkan
Punditfilm juga berpendapat bahwa film ini belum cukup kuat berdiri sebagai sebuah karya sinematik utuh. Kesan "konten yang dipanjang-panjangkan menjadi film" masih terasa kuat. Meski begitu, ulasan tersebut tetap mengapresiasi upaya penyutradaraan dalam menghadirkan sisi drama personal dari karakter-karakternya.
Alih-alih merasa tersinggung atau kecewa, Reza Arap justru menunjukkan sikap yang patut diacungi jempol. Ia menerima kritik tersebut dengan lapang dada dan memilih untuk menjadikannya sebagai bahan evaluasi diri. Sikap terbuka seperti ini jarang ditemui, terutama dari seorang kreator yang baru pertama kali berkecimpung di dunia penyutradaraan film panjang.
Pelajaran Berharga bagi Orang Tua dalam Mendidik Anak
Sikap Reza Arap ini sebenarnya bisa menjadi contoh nyata bagi para orang tua, khususnya ibu muda, dalam mengajarkan anak tentang pentingnya menerima kritik. Di era digital yang serba cepat, anak-anak seringkali terbiasa dengan validasi instan berupa like dan komentar positif. Padahal, kemampuan menerima masukan negatif adalah bekal penting untuk tumbuh dan berkembang.
Mengajarkan anak untuk tidak mudah tersinggung saat dikritik bukan berarti membuat mereka kebal terhadap perasaan sakit hati. Lebih dari itu, ini tentang menumbuhkan growth mindset—pola pikir bahwa kemampuan dan kecerdasan bisa diasah melalui usaha dan pembelajaran. Kritik dilihat sebagai informasi berharga untuk perbaikan diri, bukan sebagai serangan pribadi.
Sebagai orang tua, kita bisa mulai dengan memberi contoh. Saat anak melihat kita menerima masukan dari pasangan atau rekan kerja dengan tenang, mereka akan meniru perilaku tersebut. Begitu pula sebaliknya, jika kita mudah defensif, anak pun akan belajar hal yang sama.
Menumbuhkan Ketahanan Mental Anak Sejak Dini
Ketahanan mental atau resilience adalah kemampuan untuk bangkit kembali dari kegagalan, masalah, atau kritik. Ini adalah keterampilan hidup yang sangat penting dan bisa diasah sejak dini. Anak yang tangguh secara mental tidak mudah menyerah dan mampu melihat tantangan sebagai peluang untuk belajar.
Untuk menumbuhkan ketahanan mental, orang tua bisa melatih anak menghadapi kegagalan kecil. Misalnya, saat anak kalah dalam permainan atau nilainya kurang bagus di sekolah. Alih-alih langsung memarahi, ajak anak berdiskusi tentang apa yang bisa diperbaiki ke depannya. Dengan begitu, anak belajar bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.
Yang tidak kalah penting, ciptakan lingkungan rumah yang aman dan mendukung. Anak perlu merasa bahwa mereka dicintai tanpa syarat, terlepas dari prestasi atau kegagalan mereka. Rasa aman ini akan menjadi fondasi kuat bagi anak untuk berani mencoba hal-hal baru dan menerima segala konsekuensinya, termasuk kritik.
Kisah Reza Arap adalah pengingat bahwa kesuksesan sejati bukanlah tentang tidak pernah gagal, melainkan tentang bagaimana kita bangkit dan belajar dari setiap kekurangan. Sebagai orang tua, menanamkan nilai ini sejak dini adalah salah satu hadiah terbaik yang bisa kita berikan untuk masa depan anak.