Pencarian

Buku Cerpen Karya AI "Perempuan di Tengah Labirin Mal" Diluncurkan, Dikabarkan Layak Rekor MURI

Sabtu, 03 Oktober 2026 • 10:21:31 WIB
Buku Cerpen Karya AI
Buku kumpulan cerpen karya AI "Perempuan di Tengah Labirin Mal" resmi diluncurkan melalui podcast Tribun Sumsel.

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Buku kumpulan cerpen berjudul "Perempuan di Tengah Labirin Mal" yang seluruh karyanya dihasilkan kecerdasan buatan resmi diluncurkan melalui podcast Tribun Sumsel, Palembang, akhir September lalu. Buku ini disunting jurnalis senior Maspril Aries dan diterbitkan hasil kerja sama Kaki Bukit Literasi dengan Pustaka Labrak, disebut penulis Nasir Tamara layak mendapat Rekor MURI sebagai yang pertama di bidangnya. Kehadiran buku ini menandai babak baru perdebatan soal orisinalitas karya sastra di era AI.

Pengamat sastra dan wartawan senior Hendry Ch Bangun mengaku baru bisa membaca banyak cerpen dari buku tersebut setelah menerima kiriman dari Maspril Aries. Menurutnya, buku ini menjadi terobosan karya sastra AI yang memperkaya khazanah sastra Indonesia.

Beragam Tema dalam Satu Buku

Topik cerita dalam buku ini cukup beragam. Sebagian bertema sejarah, seperti "Sumpah Garuda Hitam", "Bayang-Bayang di Atas Air", "Catatan dari Negeri Srivijaya", dan "Dampu Awang dan Kutukan Sungai Musi".

Ada pula cerpen tentang hubungan antar manusia, misalnya "Jatuh Cinta di Toko Buku, Seharfiah Itu", "Obituari yang Tidak Pernah Ditulis", serta "Perempuan di Tengah Labirin Mal". Sejumlah cerpen lain bernada kritik sosial, seperti "Udara yang Kita Pilih", "Perempuan yang Menyalakan Lampu di Jalan Sunyi", "Bayang-bayang di Tepian Sungai Musi", dan "Ada Gentong Babi di Pilkada Kota Sumber Rezeki".

Jejak Mesin yang Sulit Disembunyikan

Bagi pembaca awam, kalimat, dialog, dan deskripsi dalam cerpen-cerpen ini bisa tampak seperti karya sastra pada umumnya. Namun pembaca yang terbiasa menikmati karya sastra merasakan ada sesuatu yang berbeda dibanding karya buatan manusia yang sarat pengalaman hidup.

Perbedaan itu baru terasa pada pembacaan kedua. Muncul kata, kalimat, dan deskripsi yang terasa sebagai standar mesin, terutama bagi pembaca yang juga biasa memanfaatkan AI.

Hal ini wajar karena aplikasi AI pada dasarnya merupakan kumpulan miliaran kata dan kalimat dari akumulasi produk digital yang diserap mesin. Aplikasi akan sigap memberikan apa yang diminta dalam satu hingga dua menit, lalu mewujudkannya sebagai informasi, berita, cerpen, atau puisi.

Mengapa Hasil AI Cenderung Seragam

Jika sepuluh orang memberi permintaan serupa, jawaban yang muncul akan sama atau setidaknya mirip karena bahan yang tersedia di aplikasi itu-itu saja. Perbedaan baru muncul bila pengguna menambahkan permintaan spesifik, misalnya puisi yang mirip karya Sapardi Djoko Damono atau sastra bergaya Pramoedya Ananta Toer.

Kemudahan ini membuka peluang bagi siapa pun untuk membuat karya sastra. Cukup memberi judul, cerita langsung muncul. Dengan tema dan kerangka, hasilnya bisa lebih baik. Jika disertai skenario, ceritanya bisa lebih rumit.

Di sisi lain, kemudahan tersebut membuka peluang manipulasi bagi mereka yang mencari jalan pintas lalu mengklaim dirinya sebagai pencipta.

Peran Penyuntingan Manusia

Maspril Aries yang puluhan tahun menjadi wartawan memiliki kecakapan menyusun kata untuk berita, buku, dan materi pelatihan jurnalistik. Sentuhan penyuntingannya membuat sastra AI dalam buku ini banyak berubah dari kalimat ciptaan mesin.

Deskripsinya lebih lengkap, unsur manusianya lebih terasa, dan pesan moralnya lebih kuat. Hendry Ch Bangun menyebut hasilnya seperti kata orang Sumut yang merantau ke Jakarta, "Sudah tidak kentara logatnya".

Yang Membuat Sastra Memikat Pembaca

Karya sastra memikat pembaca karena merupakan pernyataan perasaan, akal, dan pikiran lewat kata, kalimat, dan ungkapan yang orisinal serta intim. Sastrawan besar punya ciri khas yang membuat pembaca segera tahu siapa penulisnya.

Menurut Hendry, cerpen "Perempuan di Tengah Labirin Mal" dan "Bayang-bayang di Tepian Sungai Musi" tergolong karya yang sudah mirip buatan manusia. Emosi penulis dan pesan moralnya terasa setara dengan karya sastra orisinal.

Sebaliknya, "Jatuh Cinta di Toko Buku, Seharfiah Itu" masih memperlihatkan kalimat-kalimat AI dalam banyak deskripsi maupun dialog tokohnya. Hendry pun mengakui penilaiannya bisa keliru karena belum membaca seluruh isi buku.

Terlepas dari perdebatan soal orisinalitas, kehadiran buku ini memperlihatkan bagaimana AI mulai masuk ke ranah sastra Indonesia. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah AI bisa menulis cerpen, melainkan sejauh mana campur tangan manusia diperlukan agar hasilnya tetap punya nyawa.

Sumber: indonesiadaily.net

Follow liputanharian.co.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks