LIPUTANHARIAN.CO.ID — Lima rumah produksi di bawah naungan The Mediapro Studio memaparkan strategi konten mereka di ajang Iberseries & Platino Industria ke-6 di Madrid. Globomedia, 100 Balas, Big Bang Media, Cimarrón Cine, dan El Terrat kompak menolak mengejar skala semata, memilih membangun proyek berbasis talenta dan cerita lokal. Strategi itu dinilai justru jadi kunci agar karya mereka bisa menembus pasar internasional.
Globomedia dan DNA Komedi
Globomedia tetap setia pada komedi sebagai fondasi konten hiburan mereka. Direktur Jenderal Maria Jose Rodríguez menyebut genre itu sudah tertanam dalam DNA perusahaan. Globomedia tercatat berada di balik sejumlah judul televisi Spanyol berpengaruh, termasuk "Sé lo que hicisteis" dan "Caiga quien caiga". Menurut Rodríguez, kedua acara itu ikut mengubah lanskap pertelevisian negaranya.
"Comedy is the best tool we have to entertain, generate critical thinking and connect with one another," ujar Rodríguez.
100 Balas dan Kekuatan Cerita Nyata
Bagi 100 Balas, cerita kehidupan nyata dan fiksi yang digerakkan kreator menjadi inti strategi. Direktur Jenderal Alejandro Flórez menggambarkan perusahaannya sebagai rumah produksi yang berpijak pada cerita, asal-usul, dan penulisnya. Mereka menggarap kasus nyata, investigasi, serta kreator yang mampu membangun dunianya sendiri.
Rumah produksi ini berada di balik thriller skenario "Death in Llanes", yang diangkat dari pembunuhan politikus Spanyol Javier Ardines. Mereka juga memproduksi serial dokumenter "Expediente Linares" tentang fenomena paranormal yang dikaitkan dengan Palacio de Linares di Madrid. Di sisi fiksi, judul seperti "Celeste", "Su Majestad", dan "Yakarta" mencerminkan fokus pada proyek dengan identitas kreatif kuat.
"At a time when the audiovisual offering is broader than ever, the real differentiator continues to be the stories and those capable of telling them in a unique way," kata Flórez. "It's not about producing more content. It's about producing content that leaves a mark."
100 Balas juga mengandalkan musim kedua "Celeste", yang dibuat Diego San José dan dibintangi Carmen Machi. Aktris itu baru saja menerima National Film Prize di San Sebastian Festival. Dalam serial tersebut, Machi berperan sebagai inspektur pajak yang kembali menyelami kasus penggelapan, uang, dan kepentingan kuat.
Soal ekspansi internasional, Flórez menegaskan pihaknya tidak membuat serial dengan pikiran untuk berkeliling dunia. "You shouldn't be afraid of being local," ujarnya. Suara khas Spanyol, menurut dia, justru bisa menjadi modal agar sebuah serial punya daya jelajah internasional.
Big Bang Media dan Televisi Langsung
Di Big Bang Media, televisi langsung masih menjadi bagian besar dari DNA perusahaan. General Manager Carmen González menunjuk "Malas Lenguas" sebagai contoh acara yang berkembang melintasi La 2 dan La 1 milik RTVE, beda slot waktu, dan beda tim pembawa acara.
"It's a typical example in television," kata González soal kemampuan acara itu berpindah kanal dan audiens tanpa kehilangan identitas.
Big Bang Media juga mendorong diri lebih dalam ke fiksi. "Ser o no ser" yang dibuat untuk RTVE Play berjalan dua musim dan menyasar audiens muda, sementara "Pérdida" meluas ke pasar internasional lewat Atresplayer. Kini mereka mengembangkan proyek bersama penulis bestseller María Dueñas serta "La Dama de la Cartuja", drama periode yang diangkat dari novel Inma Aguilera.
"We're looking for creators who have a lot to say, as well as literary titles that we believe can make an important leap to the screen," ujar González.
Cimarrón Cine dan Model Lintas Negara
Di pasar berbahasa Spanyol yang menghadap Atlantik, Cimarrón Cine membawa pendekatan tanpa batas itu selangkah lebih jauh. CEO sekaligus co-founder Santiago López menyamakan perusahaannya dengan anjing cimarrón Uruguay, ras yang terbentuk dari generasi perkawinan silang dan adaptasi.
"Cimarrón is also a mixture," kata López. "We started as a mix of two countries and are now a mix of five countries, of very different formats and projects, but above all of very different people."
Campuran itu makin banyak menyuplai pengembangan orisinal. López menyebut lima tahun lalu sekitar satu dari lima proyek dibuat secara internal, kini menjadi satu dari tiga, dengan target satu dari dua. Model mereka sengaja lintas batas. Cimarrón membawa format Spanyol "El Conquistador del Fin del Mundo" ke Meksiko dan Amerika Serikat, syuting di Republik Dominika, dan menuntaskan pekerjaan di Southern Cone. Mereka juga mengadaptasi novel Argentina "Cometierra" di Meksiko dan Uruguay.
"There is no territory that thinks while the others simply execute," ujar López. "We try not to make the stories smaller. We make the project possible so that the story can be possible."
Direktur Kreatif Andrés Gelós merangkum filosofi itu dengan cara yang lebih gamblang. Setelah puluhan tahun menjadi "serigala penyendiri", ia kini melihat Cimarrón sebagai "kawanan" kreatif.
El Terrat dan Ambisi ke Fiksi
El Terrat memanfaatkan pengalaman hampir empat dekade di komedi dan hiburan untuk memperbesar langkah ke fiksi. General Manager Agustín Esteve mengakui perusahaannya masih paling dikenal lewat hiburan, tetapi ambisinya jelas.
Pertemuan di Madrid itu memperlihatkan satu pola: rumah-rumah produksi Spanyol tidak berlomba mengejar skala, melainkan memperkuat suara lokal sebagai bekal menembus pasar global.