Pencarian

8 Kebiasaan Anak Kurang Kasih Sayang Sejak Kecil yang Perlu Ibu Kenali

Jumat, 25 September 2026 • 09:41:01 WIB
8 Kebiasaan Anak Kurang Kasih Sayang Sejak Kecil yang Perlu Ibu Kenali
Ilustrasi anak yang tumbuh dengan kebutuhan emosional yang kurang terpenuhi.

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Anak yang tumbuh tanpa cukup kasih sayang sering menyimpan luka yang tidak terlihat, tapi muncul lewat kebiasaan sehari-hari hingga ia dewasa. Kenali delapan tanda berikut supaya ibu bisa lebih peka dan segera memberi respons emosional yang dibutuhkan si kecil.

Kasih sayang dan perhatian dari orang terdekat adalah fondasi tumbuh kembang anak. Ketika kebutuhan emosionalnya tidak terpenuhi sejak kecil, anak bisa membawa pola kebiasaan tertentu sampai ia beranjak dewasa.

Pola ini biasanya muncul dalam cara anak berhubungan dengan orang lain dan memandang dirinya sendiri. Mulai dari sulit menerima pujian, terlalu mandiri, hingga sering meminta maaf meski tidak bersalah.

1. Sulit Menerima Pujian

Anak yang kurang mendapat kasih sayang sering merasa tidak nyaman saat dipuji. Ia cenderung langsung menolak atau meremehkan pujian dengan mengatakan itu bukan hal istimewa atau hanya keberuntungan.

2. Terlalu Mandiri dan Enggan Minta Bantuan

Anak yang sejak kecil merasa kebutuhan emosionalnya tidak terpenuhi terbiasa mengandalkan diri sendiri. Penelitian tentang keterikatan menunjukkan kondisi ini berkaitan dengan avoidant attachment style, pola yang ditandai kemandirian berlebihan dan rasa tidak nyaman saat bergantung pada orang lain.

Akibatnya, anak memilih menyelesaikan semuanya sendiri karena merasa bergantung pada orang lain adalah hal yang berisiko.

3. Sering Meminta Maaf untuk Hal Kecil

Kebiasaan meminta maaf bahkan untuk hal sederhana bisa jadi tanda anak kurang kasih sayang. Ia mungkin merasa merepotkan, merasa kebutuhannya berlebihan, atau khawatir membuat orang lain tidak nyaman.

4. Terlalu Melekat atau Justru Menjaga Jarak

Anak yang kurang kasih sayang bisa menunjukkan dua sikap yang berbeda. Sebagian terus mencari kepastian dan takut ditinggalkan saat berjauhan dari orang terdekat.

Sebagian lain justru menjaga jarak dan sulit membiarkan orang lain dekat. Alasannya satu: ia khawatir mengalami kekecewaan lagi.

5. Sulit Mengenali dan Menyebutkan Emosinya Sendiri

Kemampuan mengenali emosi berkembang saat perasaan anak mendapat respons dari orang di sekitarnya. Pada 1975, psikolog perkembangan Edward Tronick menunjukkan pentingnya hal ini lewat eksperimen still face.

Saat orang tua berhenti memberi respons emosional selama beberapa menit, bayi awalnya berusaha mencari respons, lalu menarik diri dalam kondisi tertekan. Kurangnya respons emosional membuat perasaan anak membingungkan, sehingga ia cenderung mengabaikan atau tidak memahami apa yang sedang dirasakannya.

6. Meremehkan Pencapaian Sendiri

Ketika berhasil mencapai sesuatu, anak justru menganggapnya bukan hal besar dan membandingkan diri dengan orang lain. Menurut Webb, kurangnya pengakuan emosional sejak kecil membuat seseorang merasa dirinya punya kekurangan.

Pencapaian yang diraih pun tidak selalu membuatnya merasa mampu atau berharga, dan dianggap sebagai keberuntungan semata.

7. Sulit Menetapkan Batasan

Anak yang kurang kasih sayang merasa tidak nyaman ketika harus mengatakan "tidak". Ia cenderung selalu mengiyakan, mengambil terlalu banyak tanggung jawab, atau mendahulukan kebutuhan orang lain daripada dirinya sendiri.

8. Selalu Mencari Pengakuan dari Orang Lain

Anak yang kurang kasih sayang terbiasa mencari pengakuan untuk merasa dirinya berharga. Ia sangat membutuhkan pujian, persetujuan, atau perhatian dari orang lain.

Kebiasaan ini bisa terlihat dari sering memeriksa ponsel, berusaha terlalu keras, atau menyesuaikan diri dengan keinginan orang lain. Ia merasa kasih sayang harus diperoleh lewat apa yang bisa ia berikan.

Kapan Ibu Perlu Mencari Bantuan Ahli

Kalau ibu melihat beberapa tanda di atas menetap pada anak dan mengganggu hubungan sosial atau kepercayaannya pada diri sendiri, jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog anak. Pendampingan profesional membantu ibu memahami akar masalah dan menyusun langkah pemulihan yang tepat.

Yang terpenting, kehadiran emosional ibu setiap hari adalah obat paling ampuh. Pelukan, respons saat anak bercerita, dan pengakuan tulus atas usahanya perlahan membangun rasa aman yang mungkin sempat hilang.

Sumber: haibunda.com

Follow liputanharian.co.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks