Pencarian

Saham BYAN Anjlok 9,71% ke Rp11.850 Jelang Masuknya Jhonlin Group Haji Isam

Rabu, 23 September 2026 • 08:02:01 WIB
Saham BYAN Anjlok 9,71% ke Rp11.850 Jelang Masuknya Jhonlin Group Haji Isam
Saham BYAN ditutup melemah 9,71% ke Rp11.850 per lembar pada perdagangan Selasa (22/9/2026).

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) ditutup melemah 9,71% atau 1.275 poin ke Rp11.850 per lembar pada perdagangan Selasa (22/9/2026). Koreksi ini terjadi menjelang masuknya Jhonlin Group milik Haji Isam sebagai pemegang 30% saham emiten batu bara milik Low Tuck Kwong tersebut. Dengan harga tersebut, kapitalisasi pasar BYAN yang mencapai Rp400 triliun tercatat turun 27,52% secara year-to-date (YtD) 2026.

Tekanan jual atas saham BYAN berlanjut setelah dibuka di level Rp13.125 per lembar. Sepanjang sesi, harga bergerak turun hingga akhirnya ditutup di Rp11.850 per lembar, level terendah dalam periode perdagangan tersebut.

Penurunan 9,71% dalam sehari memperpanjang tren koreksi saham emiten batu bara ini. Dalam enam bulan terakhir, BYAN melemah 6,69%, sementara secara year-to-date 2026 sudah turun 27,52%.

Meski begitu, dalam jangka pendek saham BYAN masih mencatat kenaikan 16,18% dalam sepekan dan 7,73% dalam tiga bulan terakhir. Pola ini menunjukkan volatilitas tinggi seiring dinamika rencana akuisisi yang sedang berjalan.

Jhonlin Group Incar 30% Saham BYAN

Rencana masuknya Jhonlin Group sebagai pemegang 30% saham menjadi pemicu utama pergerakan harga. Low Tuck Kwong dan Elaine Low disebut telah menyetujui penjualan sebagian saham mereka kepada Haji Isam.

Transaksi ini masih menunggu persetujuan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Tanpa restu regulator, proses akuisisi belum bisa dieksekusi.

Bagi pasar, masuknya Jhonlin Group mengubah peta kepemilikan BYAN yang selama ini identik dengan keluarga Low Tuck Kwong. Perubahan struktur pemegang saham pada emiten berkapitalisasi besar biasanya diikuti penyesuaian ekspektasi investor terhadap arah strategi perusahaan.

Tekanan Jual Sebelum Akuisisi Tuntas

Koreksi tajam saham BYAN menjelang transaksi berjalan sejalan dengan pola yang lazim terjadi di pasar. Ketidakpastian soal harga kesepakatan, waktu persetujuan, dan dampak perubahan kendali membuat sebagian investor memilih keluar lebih dulu.

Kapitalisasi pasar BYAN yang mencapai Rp400 triliun menempatkannya sebagai salah satu emiten terbesar di Bursa Efek Indonesia. Dengan bobot sebesar itu, pergerakan harga BYAN turut memengaruhi indeks sektor energi dan IHSG secara keseluruhan.

Investor yang masih memegang saham BYAN kini menanti kejelasan dua hal: restu ESDM dan rincian harga transaksi 30% saham tersebut. Keduanya akan menentukan apakah tekanan jual berlanjut atau berbalik menjadi aksi beli menjelang penutupan deal.

Sumber: premium.bisnis.com

Follow liputanharian.co.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks