BANDAR SUNGAI — Daun kelor yang kerap dianggap tanaman biasa di pekarangan, kini disulap mahasiswa menjadi puding bernutrisi untuk menekan angka anemia. Inovasi ini diperkenalkan langsung kepada puluhan warga yang memadati Posyandu Pelangi pada kegiatan gabungan yang digelar 12 Agustus 2026.
Mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Riau Kelompok 48 memanfaatkan momen Posyandu gabungan untuk memberikan edukasi gizi secara langsung. Mereka memilih daun kelor karena tanaman ini mudah ditemukan di lingkungan sekitar dan memiliki kandungan gizi yang melimpah.
Mengapa Daun Kelor Menjadi Pilihan untuk Cegah Anemia?
Pemilihan daun kelor bukan tanpa alasan. Tanaman ini dikenal kaya zat besi dan nutrisi penting lainnya yang berperan dalam pembentukan sel darah merah. Bagi ibu menyusui yang kebutuhan zat gizinya meningkat, daun kelor menjadi alternatif pangan lokal yang ekonomis dan mudah diolah.
Dalam sosialisasi tersebut, mahasiswa memaparkan materi tentang anemia secara sederhana, mulai dari pengertian, faktor penyebab, tanda-tanda yang perlu diwaspadai, hingga langkah pencegahan yang bisa dilakukan sehari-hari. Penyampaian dengan bahasa ringan membuat informasi mudah dicerna warga dari berbagai kelompok usia.
Puding Daun Kelor: Cara Baru Konsumsi Pangan Lokal
Inovasi utama yang diperkenalkan adalah superfood pudding daun kelor. Mahasiswa membagikan dua jenis poster edukasi: satu berisi informasi lengkap tentang anemia, dan satu lagi berisi resep praktis mengolah daun kelor menjadi puding yang menarik untuk dikonsumsi.
Pembagian puding dilakukan sebagai bentuk pengenalan langsung. Warga tidak hanya mendapat penjelasan teoretis, tetapi juga dapat melihat tekstur dan mencicipi hasil olahan yang telah disiapkan mahasiswa.
Puding menjadi pilihan karena teksturnya yang lembut dan rasanya yang mudah diterima, termasuk oleh anak-anak dan lansia yang kerap kesulitan mengonsumsi sayuran hijau dalam bentuk olahan konvensional.
Momentum Posyandu Gabungan untuk Jangkau Semua Usia
Pelaksanaan kegiatan yang bertepatan dengan Posyandu gabungan memberi keuntungan tersendiri. Mahasiswa dapat menjangkau ibu hamil, ibu menyusui, bayi, balita, hingga lansia dalam satu waktu. Setiap kelompok memiliki kebutuhan gizi berbeda, sehingga edukasi tentang pola makan bergizi dan seimbang menjadi relevan untuk semua.
Antusiasme warga terlihat dari interaksi yang berlangsung komunikatif selama sesi tanya jawab. Beberapa peserta bertanya tentang cara mengolah daun kelor tanpa meninggalkan bau langu, sementara lainnya menanyakan porsi konsumsi yang aman untuk anak-anak.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata mahasiswa KKN dalam mengenalkan potensi pangan lokal. Daun kelor yang selama ini hanya dipandang sebagai tanaman liar, kini diharapkan dapat menjadi bagian dari keberagaman konsumsi keluarga untuk mendukung pemenuhan gizi masyarakat Bandar Sungai.