JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem berupa hujan lebat dan angin kencang yang berpotensi melanda sejumlah wilayah Indonesia pada Minggu (23/8/2026) dan Senin (24/8/2026). Peringatan ini muncul di tengah dominasi musim kemarau yang telah melanda 76,5 persen wilayah Indonesia atau mencakup 535 Zona Musim (ZOM).
Meski curah hujan kategori rendah mendominasi 90,79 persen wilayah Indonesia, analisis BMKG menunjukkan adanya potensi peningkatan aktivitas konvektif yang dapat membentuk awan hujan secara lokal.
Fenomena Pemicu Hujan di Tengah Kemarau
Kombinasi beberapa fenomena atmosfer menjadi pemicu utama. Madden-Julian Oscillation (MJO) diprakirakan aktif di sebagian besar Sumatera, Selat Malaka, Selat Karimata, Laut Natuna, Laut Cina Selatan, sebagian Kalimantan, hingga Pasifik barat.
Selain itu, Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuator juga diprakirakan aktif di sejumlah wilayah, meliputi Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, hingga Samudra Pasifik utara Papua.
BMKG menjelaskan bahwa kombinasi fenomena tersebut dapat meningkatkan aktivitas konvektif dan mendukung pembentukan awan hujan, terutama pada wilayah yang dilaluinya. Kondisi ini diperkuat dengan adanya pusat tekanan rendah di Samudra Pasifik utara Papua, sirkulasi siklonik di Selat Makassar, serta terbentuknya daerah konvergensi dan konfluensi.
Daftar Wilayah Berpotensi Hujan Lebat pada 23 Agustus 2026
Berdasarkan prakiraan cuaca BMKG, sejumlah daerah perlu meningkatkan kewaspadaan pada Minggu (23/8/2026). Wilayah-wilayah tersebut berpotensi mengalami hujan lebat yang dapat disertai angin kencang.
BMKG juga mengeluarkan prakiraan serupa untuk Senin (24/8/2026), dengan sebaran wilayah yang masih berpotensi terdampak hujan lebat dan angin kencang.
Imbauan untuk Masyarakat
BMKG mengimbau masyarakat yang berada di wilayah berpotensi terdampak untuk tetap waspada terhadap kemungkinan hujan lebat, angin kencang, banjir, genangan, pohon tumbang, maupun gangguan aktivitas akibat cuaca ekstrem.
Masyarakat juga disarankan untuk terus memantau informasi prakiraan cuaca terbaru yang dikeluarkan BMKG melalui kanal resmi.
Sementara itu, fenomena El Nino yang saat ini berada pada intensitas sangat kuat, disertai Indian Ocean Dipole (IOD) yang cenderung bernilai positif, menunjukkan konsistensi berkurangnya pasokan uap air ke wilayah Indonesia. “Kondisi ini turut memperkuat kecenderungan atmosfer yang lebih kering di sebagian besar wilayah,” jelas BMKG dalam keterangannya.