5 Situs Bersejarah di Yogyakarta yang Kaya Nilai Budaya

Kompleks Makam Raja-Raja Mataram Islam di Kotagede, Yogyakarta.
Penulis: Ridwan Azhari
Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:20:31 WIB

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Yogyakarta menyimpan jejak panjang Kerajaan Mataram Islam, dari Kotagede hingga Keraton. Bagi pencinta wisata budaya, lima situs bersejarah berikut menawarkan arsitektur klasik dan nilai filosofis yang sayang dilewatkan. Setiap tempat punya cerita dan fungsi berbeda di masa lampau.

Yogyakarta punya banyak destinasi wisata, mulai dari alam hingga kebudayaan. Tradisi keraton yang masih hidup membuat provinsi ini terus menarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Bagi yang ingin menyelami sejarah Mataram Islam lebih dekat, ada sejumlah situs yang bisa jadi pilihan kunjungan.

1. Kotagede

Kotagede pernah menjadi ibu kota pertama Kesultanan Mataram Islam sekitar tahun 1586–1613 di bawah Panembahan Senopati. Kawasan ini jadi titik awal lahirnya Dinasti Mataram di tanah Jawa.

Tata letak keratonnya memadukan unsur Islam dan pra-Islam lewat konsep catur gatra tunggal: masjid, keraton, pasar, dan alun-alun. Kompleks ini dulu dikelilingi benteng cepuri dan baluwarti. Kini tersisa reruntuhan dinding benteng tua, Masjid Gedhe Mataram Kotagede, serta kompleks Makam Raja-Raja Mataram Islam.

2. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Keraton ini mulai didirikan Sri Sultan Hamengku Buwono I beberapa bulan setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755. Lokasinya dulunya bekas pesanggrahan Garjitawati, lalu resmi ditempati pada 1756 sebagai ibu kota Kesultanan Yogyakarta.

Arsitektur Jawa klasiknya sarat simbol filosofis tentang hubungan manusia, alam, dan Sang Pencipta lewat konsep Hamemayu Hayuning Bawana. Hingga kini keraton masih merawat tradisi, naskah kuno, benda pusaka, serta kesenian seperti tari, gamelan, dan wayang.

3. Situs Taman Sari

Taman Sari dibangun Sri Sultan Hamengku Buwono I sekitar tahun 1758. Namanya berarti "taman yang indah", dulu berfungsi sebagai tempat rekreasi sultan dan kerabat istana.

Selain pemandian dan peristirahatan, kompleks ini dirancang sebagai benteng pertahanan kedua dengan saluran air, danau buatan, serta lorong rahasia bawah tanah. Bagian paling ikonik adalah Sumur Gumuling, bangunan dua lantai berbentuk lingkaran yang lantai bawahnya dulu jadi masjid bawah tanah.

4. Situs Warungboto (Pesanggrahan Rejowinangun)

Situs Warungboto atau Pesanggrahan Rejowinangun dibangun Sultan Hamengku Buwono II sejak masih berstatus putra mahkota pada masa pemerintahan Hamengku Buwono I. Fungsinya mirip Taman Sari: pesanggrahan dan pemandian keluarga kerajaan untuk mencari ketenangan.

Bangunannya didominasi dinding batu bata tebal, pintu melengkung, dan kolam pemandian terbuka yang dipisahkan aliran Sungai Gajah Wong. Sempat terbengkalai akibat gempa dan usia, situs ini sudah dipugar dan kini populer berkat keindahan arsitekturnya.

5. Panggung Krapyak (Kandang Menjangan)

Panggung Krapyak adalah bangunan berbentuk kubus berlantai dua dari batu bata merah, dibangun Sri Sultan Hamengku Buwono I sekitar tahun 1760. Dulu bangunan ini jadi pos pengintaian dan tempat peristirahatan raja saat berburu rusa di Hutan Krapyak, sebelah selatan keraton.

Perannya lebih dari sekadar tempat berburu. Panggung Krapyak menjadi titik batas paling selatan Sumbu Filosofi Yogyakarta, yang menyimbolkan perjalanan siklus hidup manusia (Sangkan Paraning Dumadi) dari lahir hingga kembali kepada Sang Pencipta.

Kelima situs ini memperlihatkan betapa Yogyakarta menyimpan lapisan sejarah Mataram Islam dalam bentuk bangunan nyata. Menyusuri satu per satu memberi pemahaman lebih utuh soal budaya dan tata ruang kota ini.

Reporter: Ridwan Azhari