Kapal Tanker Terbakar di Selat Hormuz, Iran Tuding Ranjau Laut

Kapal tanker minyak terbakar di Selat Hormuz setelah diduga menghantam ranjau laut menurut pernyataan Garda Revolusi Iran.
Penulis: Mahsyar Hamdani
Senin, 19 Oktober 2026 | 08:41:31 WIB

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Garda Revolusi Iran menyatakan sebuah kapal tanker minyak terbakar di Selat Hormuz setelah menghantam ranjau laut. Insiden terbaru itu terjadi di jalur pelayaran yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia, dan memanaskan kembali ketegangan keamanan maritim di kawasan tersebut.

Iran mengambil alih kendali atas selat itu setelah pecahnya perang melawan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari. Sejak itu, Teheran mewajibkan semua kapal meminta izin sebelum melintas.

Kronologi dan Tudingan Garda Revolusi

Dalam pernyataan yang dikutip media pemerintah Iran, Garda Revolusi menyebut kapal tanker tersebut sedang berlayar melalui "rute selatan yang tidak sah". Kapal itu juga dilaporkan mematikan sistem penentuan posisi serta navigasinya sebelum insiden terjadi.

"Sebuah kapal tanker minyak, yang melakukan pelanggaran, menghantam ranjau laut di sebelah selatan Selat Hormuz, yang mengakibatkan ledakan dan kebakaran di ruang mesinnya," demikian pernyataan Garda Revolusi.

Peristiwa ini terjadi sehari setelah Garda Revolusi melaporkan dua kapal tanker minyak terbakar di selat yang sama, keduanya akibat menghantam ranjau. Artinya, sudah tiga kapal tanker terbakar di jalur tersebut dalam dua hari terakhir.

Peringatan untuk Kapal yang Matikan Navigasi

Komandan angkatan laut Garda Revolusi, Laksamana Ali Ozmaei, pekan ini memperingatkan bahwa setiap kapal yang menonaktifkan sistem navigasinya akan dianggap sebagai pihak yang "bermusuhan". Peringatan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan atas kepatuhan kapal-kapal asing terhadap aturan baru Teheran.

Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu titik paling strategis dalam rantai pasok energi global. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia biasanya melewati perairan sempit yang memisahkan Iran dan Oman tersebut.

Blokade Balasan Amerika Serikat

Amerika Serikat telah menerapkan blokade balasan melalui angkatan laut terhadap ekspor minyak Iran. Langkah Washington itu merupakan tanggapan atas blokade yang diberlakukan Teheran di jalur perairan tersebut.

Bagi pasar energi, rangkaian insiden ini menjadi sinyal risiko baru. Setiap gangguan di Selat Hormuz berpotensi menekan arus pengiriman minyak mentah dari produsen Teluk ke konsumen utama di Asia, termasuk Indonesia, yang masih bergantung pada impor bahan bakar.

Penutup: Tiga kapal tanker terbakar dalam dua hari menunjukkan bahwa ketegangan di Selat Hormuz belum mereda meski jalur itu menjadi urat nadi pasokan minyak dunia. Selama aturan izin melintas dan blokade balasan AS masih berlaku, risiko gangguan pengiriman energi dari kawasan Teluk akan terus membayangi pasar.

Reporter: Mahsyar Hamdani