Mercedes-AMG GT SUV 2028: SUV Listrik 1.153 HP Pertama Racikan AMG
LIPUTANHARIAN.CO.ID — Mercedes-AMG GT SUV 2028 jadi SUV pertama yang dikembangkan sendiri oleh AMG, bukan sekadar versi tinggi dari sedan GT 4-door. Varian GT63 mengusung tiga motor axial-flux dengan tenaga puncak 1.153 HP dan klaim 0-60 mph 2,4 detik, sementara GT53 hadir sebagai versi termurah. Harga resmi belum diumumkan, dan justru di situlah letak pertanyaan terbesarnya untuk pasar Indonesia.
Mercedes-AMG GT SUV 2028 adalah kendaraan kedua yang memakai arsitektur AMG.EA setelah sedan GT 4-door. AMG menyebut SUV ini dikembangkan in-house sepenuhnya, bukan menumpang platform SUV Mercedes-Benz biasa. Pendekatannya mirip sedan: performa tinggi, baterai 800 volt, dan motor axial-flux sebagai jantung penggerak.
Lineup-nya terdiri dari tiga varian. GT63 dan GT55 memakai tiga motor axial-flux, sedangkan GT53 turun ke dua motor radial-flux permanent-magnet yang lebih konvensional. Perbedaan ini bukan sekadar soal tenaga, tapi juga bobot, baterai, dan harga.
GT63 dan GT55: Tiga Motor Axial-Flux, Tenaga Sampai 1.153 HP
Motor axial-flux sebenarnya bukan teknologi baru. Selama ini pemakaiannya terbatas karena sulit diproduksi massal dalam ukuran yang layak untuk mobil produksi. Contoh yang sudah memakainya adalah Ferrari 296 GTB, Lamborghini Revuelto, dan Temerario, semuanya hypercar dengan harga selangit.
Mercedes mengklaim telah berinvestasi besar untuk menekan biaya produksi axial-flux. Hasilnya, teknologi ini jadi motor utama di GT SUV, bukan pelengkap. Dua motor dipasang di belakang untuk penggerak dan torque vectoring, satu di depan untuk tambahan dorongan saat dibutuhkan.
- GT55 — 805 HP puncak (711 HP berkelanjutan), torsi 1.372 lb-ft
- GT63 — 1.153 HP puncak (711 HP berkelanjutan), torsi 1.475 lb-ft
- GT53 — 536 HP puncak, torsi 590 lb-ft, dua motor radial-flux
Angka GT63 identik dengan sedan GT63 4-door. Bedanya, SUV ini lebih berat dan punya area drag lebih besar. Karena itu klaim akselerasinya turun: sedan 2,0 detik ke 60 mph, SUV 2,4 detik. Selisih 20 persen itu murni akibat bentuk bodi, bukan karena powertrain-nya dilemahkan.
Baterai 128 kWh, Tapi Jarak Tempuh Nyaris Sama
GT55 dan GT63 memakai paket baterai 800 volt dengan 22 modul, naik dari 18 modul di sedan. Kapasitas terpakainya melonjak dari 106 kWh ke 128 kWh, atau sekitar 22 persen lebih besar. Tambahan ini diperlukan karena SUV jauh lebih boros energi.
Bobotnya sekitar 520 pon lebih berat dari sedan, ditambah koefisien drag yang lebih buruk. Hasil akhirnya, kenaikan jarak tempuh nominal hanya sekitar 2 persen. Praktis dianggap seri. Baterai lebih besar dipakai untuk menutupi kelemahan aerodinamika, bukan untuk menambah jangkauan.
GT53 justru memakai paket 18 modul yang sama dengan sedan. Meski kapasitasnya lebih kecil, motor radial-flux-nya lebih efisien dibanding axial-flux. Perkiraan berbasis angka WLTP Eropa menyebut jarak tempuhnya hanya sekitar 4 persen di bawah versi tiga motor. Artinya, selisih baterai 22 persen tidak berbanding lurus dengan selisih jangkauan sebenarnya.
GT53: Versi Termurah yang Bobotnya Paling Ringan
GT53 jadi varian paling menarik secara rasional. Bobotnya hampir 400 pon lebih ringan dari GT55 dan GT63. Satu motor dipasang di depan dengan penggerak langsung, satu di belakang disokong transmisi otomatis dua percepatan.
Tenaga 536 HP dan torsi 590 lb-ft memang jauh di bawah GT63, tapi masih tergolong cepat untuk SUV listrik. AMG menyebut GT53 sebagai varian paling murah, meski angka resminya belum diumumkan. Untuk pembeli yang tidak mengejar angka 0-60 mph, versi ini kemungkinan jadi pilihan paling masuk akal.
Suspensi Active Ride Control Plus untuk Menahan Bodol
Posisi duduk yang lebih tinggi dan ground clearance lebih besar membuat gerakan mengangguk saat pengereman dan bergoyang saat menikung lebih terasa. AMG menjawabnya dengan suspensi AMG Active Ride Control Plus, yang mencakup stabilisasi roll dan pitch aktif.
Sistem ini diturunkan dari sedan GT63 4-door yang memakai peredam cross-linked untuk menekan body roll. Untuk SUV, versinya diupgrade. Detail teknis lengkapnya belum dipaparkan, tapi arah pengembangannya jelas: menjaga SUV seberat ini tetap stabil di kecepatan tinggi.
Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Masuk Indonesia
Harga resmi ketiga varian belum diumumkan. Tanpa angka, sulit menilai apakah GT53 benar-benar jadi versi value atau justru masih terlalu mahal untuk kelasnya. AMG juga belum merilis angka jarak tempuh resmi versi produksi, baru perkiraan berbasis WLTP.
Untuk pasar Indonesia, SUV listrik berperforma tinggi seperti ini menghadapi tantangan tersendiri: infrastruktur pengisian daya 800 volt masih sangat terbatas, dan insentif kendaraan listrik lebih berpihak ke segmen harga bawah. Mercedes-AMG GT SUV kemungkinan besar masuk sebagai produk niche, bukan volume seller.
Yang jelas, AMG membuktikan mereka tidak sekadar menempelkan bodi tinggi ke sedan listrik. GT SUV punya powertrain, baterai, dan suspensi yang dirancang ulang. Pertanyaannya tinggal satu: berapa harganya, dan apakah pembeli Indonesia rela membayarnya.