Pariwisata Indonesia Dinilai Siap Sambut Pemulihan Ekonomi Global 2027

Ketua Sobat Pesona Indonesia, Ruri, menilai pariwisata Indonesia siap menyambut pemulihan ekonomi global 2027.
Penulis: Mahsyar Hamdani
Minggu, 11 Oktober 2026 | 10:41:31 WIB

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Ketua Sobat Pesona Indonesia, Ruri, menilai sektor pariwisata tanah air punya bekal cukup untuk menyambut pemulihan ekonomi global yang diprediksi terjadi pada 2027. Penilaian itu merujuk laporan Travel and Tourism Development Index 2026 yang menempatkan Indonesia di urutan 23 dunia dan kelima di Asia. Perbaikan ekonomi dunia disebut menjadi peluang besar bagi pariwisata nasional setelah tahun 2026 yang berjalan suram.

Ruri, yang juga lulusan Vokasi Universitas Indonesia dan kini aktif mengembangkan desa wisata, menyoroti kondisi ekonomi global 2026 yang berjalan suram di hampir semua sektor. Situasi itu tidak lepas dari perang berkepanjangan di Eropa Timur dan Timur Tengah serta persoalan pasokan energi.

Dampaknya terasa sampai ke jaringan penerbangan dan minat wisata global. Meski begitu, Ruri menyebut World Bank dan Bank Indonesia memprediksi ekonomi dunia berangsur pulih pada 2027.

"Terjadinya konflik berkepanjangan di Eropa antara Ukraina dan Rusia serta Timur Tengah membuat ekonomi global menjadi lesu yang berdampak terhadap sektor pariwisata tanah air," kata Ruri.

Peluang dari Pemulihan Ekonomi 2027

Perubahan ekonomi global ke arah yang lebih baik pada 2027 dinilai menjadi peluang bagi sektor pariwisata Indonesia. Ruri menyampaikan hal itu dengan merujuk laporan Travel and Tourism Development Index 2026 (TTDI).

Laporan tersebut mencatat kontribusi ekonomi travel dan tourism global mencapai USD 11,6 triliun, setara 10 persen dari PDB global. Angka itu menunjukkan posisi pariwisata sebagai salah satu penggerak ekonomi utama dunia.

"Namun kondisi ekonomi dunia akan berubah berdasarkan keterangan world bank dan Bank Indonesia," lanjut Ruri.

Empat Pilar yang Mendorong Sektor Pariwisata

TTDI memaparkan empat pilar utama yang meningkatkan ekonomi sektor pariwisata. Kekayaan budaya mencatat kenaikan tertinggi, yakni 9,6 persen.

Pilar berikutnya adalah pelayanan dan infrastruktur yang naik 9,2 persen, disusul bandar udara 7,2 persen, serta teknologi informasi dan komunikasi 3,2 persen.

Menurut Ruri, Indonesia sudah memiliki semua modal untuk bersaing di kancah global. Yang dibutuhkan tinggal pemantapan kualitas dan promosi yang menjual.

"Dari empat pilar yang dipaparkan laporan TTDI, Indonesia sudah memiliki semua untuk bersaing dalam kancah global. Pariwisata Indonesia hanya perlu pemantapan kualitas dan promosi yang menjual sehingga lebih menarik minat wisatawan luar dan domestik," imbuh Ruri.

Posisi Indonesia di Peringkat Dunia

Dalam laporan TTDI, Indonesia berada di urutan 23 sebagai negara terbaik untuk wisata. Di kawasan Asia, Indonesia menempati posisi kelima terbaik setelah Jepang, China, Korea Selatan, dan Singapura.

Posisi itu disebut tidak lepas dari kerja keras Menteri Pariwisata Widi Wardhana dengan konsep wisata naik kelas. Konsep tersebut mengembangkan destinasi wisata tanah air, pemantapan SDM, pengembangan teknologi informasi dan komunikasi, serta pariwisata berkelanjutan.

"Posisi Indonesia dalam laporan TTDI tidak terlepas dari kerja keras Ibu Menteri Pariwisata dengan konsep Wisata Naik kelas. Saya juga yakin Pariwisata Indonesia akan mampu merebut pasar wisata global dan berkontribusi untuk menyumbang devisa lebih banyak lagi bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia," tutup Ruri.

Bagi pelaku wisata dan traveler yang merencanakan perjalanan, sinyal pemulihan ekonomi 2027 ini bisa jadi acuan menyusun rencana jangka menengah. Informasi terkini soal kebijakan pariwisata dan promosi destinasi dapat dikonfirmasi melalui Kementerian Pariwisata atau dinas pariwisata daerah setempat.

Reporter: Mahsyar Hamdani