Concrete Land Tayang di London Film Festival, Debut Dokumenter Asmahan Bkerat
LIPUTANHARIAN.CO.ID — Sutradara Palestina-Yordania Asmahan Bkerat membawa film debutnya, Concrete Land, ke kompetisi Documentary BFI London Film Festival. Dokumenter ini mengikuti tiga generasi keluarga Badui Palestina di Yordania yang menghadapi penggusuran dan diskriminasi. Sebelumnya, Concrete Land sudah menggelar premiere dunia di Locarno Film Festival ke-79.
Concrete Land adalah debut feature Bkerat yang ia sutradarai sekaligus tangani sinematografinya. Naskah dan penyuntingan dikerjakan Ban Maraqa, yang juga bertindak sebagai produser bersama Bkerat. Odd Slice Films memegang hak penjualan film ini.
Kisah Tiga Generasi Keluarga Badui Palestina
Dokumenter ini menyorot tiga generasi keluarga Badui Palestina di Yordania yang berjuang menghadapi penggusuran, rasisme, dan konflik internal keluarga. Kehidupan nomaden mereka menjadi latar cerita yang jarang muncul di layar lebar.
Situs resmi LFF menyebut Concrete Land sebagai "potret intim multi-generasi sebuah keluarga ras campuran yang melawan penggusuran dan permusuhan di Yordania." Festival itu juga menekankan bahwa film ini merupakan "eksplorasi tenang namun kuat tentang ikatan keluarga lintas generasi, sebuah kisah tentang menemukan harapan dan pentingnya sebuah rumah."
Trailer film ini sudah dirilis menjelang penayangan di London. Concrete Land masuk dalam jajaran Documentary Competition LFF.
Berawal dari Pertemuan Tak Sengaja di Pinggir Amman
Bkerat pertama kali bertemu keluarga itu saat masih tinggal di pinggiran Amman. Ia mengaku tumbuh sebagai anak yang terisolasi dari kota karena kawasan tersebut belum berkembang saat itu. Bersama sahabatnya, Ban Maraqa, ia mengikuti workshop perfilman dan memutuskan menjelajah ke luar kota.
"Ada jalan baru yang baru dibuka, dan saya bilang, ayo kita lihat. Lalu kami melihat seorang perempuan tua berjalan dengan seekor domba di belakangnya. Pemandangan yang memesona," ujar Bkerat mengenang pertemuan pertama itu.
Perempuan itu mengajak mereka bertandang. Setelah melewati gedung-gedung besar, Bkerat dan Maraqa baru menyadari bahwa keluarga tersebut tinggal di tenda. Pengalaman itu membekas kuat pada Bkerat.
Dua tahun berselang, keduanya membuat film pendek berjudul Badyra tentang domba pada 2017. Setelahnya, konstruksi di kawasan itu makin masif. Ketika Bkerat bertanya kepada seseorang apakah keluarga Badui akan tetap dipertahankan atau digusur, jawabannya tegas: mereka akan digusur.
Sejak titik itu, Bkerat memutuskan mendokumentasikan proses yang akan terjadi. Keluarga tersebut menyetujui. Delapan tahun kemudian, lahirlah Concrete Land.
Ratusan Jam Rekaman dan Perubahan Fokus Cerita
Bkerat merekam ratusan jam footage selama proses produksi. Ketidakpastian soal kapan penggusuran terjadi membuatnya terus menyalakan kamera. Fokus cerita pun beberapa kali berubah.
Awalnya ia tertarik pada sosok nenek dan dombanya. Lalu perhatiannya berpindah ke anak perempuan keluarga itu yang tumbuh besar dan mulai membentuk kepribadian. Sang ayah kemudian ikut menjadi poros cerita. Hasil akhirnya menjadi potret keluarga utuh.
Bkerat juga menyoroti soal tanah di Yordania. Amman secara historis dikenal sebagai lahan pertanian subur yang kemudian dipilih menjadi lokasi ibu kota. Setengah jam berkendara keluar dari Amman, lanskapnya berubah menjadi gurun tandus dengan bangunan yang mendesak ruang terbuka.
Keluarga Badui Palestina yang direkam Bkerat, menurutnya, adalah minoritas di dalam minoritas karena juga merupakan Afrobedouin. Kehidupan nomaden mereka bergantung pada akses ke tanah. Ketika tanah diambil alih pembangunan, pilihan mereka menyempit: tinggal di gedung dan meninggalkan cara hidup lama.
"Setiap kali saya datang, ada konstruksi baru, tanah yang hilang, dan pohon yang ditebang," kata Bkerat.
Di sisi lain, keluarga itu tetap ingin memastikan akses pendidikan bagi anak-anak mereka, sesuatu yang sulit dipertahankan jika kehidupan nomaden diteruskan.
Concrete Land menjadi salah satu judul yang memperkuat kehadiran sinema dokumenter Timur Tengah di festival film Eropa. Penayangan di LFF menempatkan film ini dalam peta distribusi internasional yang lebih luas.