Ekspedisi Noah's Ark Scans Mulai Bor Formasi Durupinar di Turki
LIPUTANHARIAN.CO.ID — Formasi Durupinar, struktur batu kapur berbentuk kapal di Turki timur dekat Gunung Ararat, kembali jadi pusat perhatian setelah ekspedisi Noah's Ark Scans memulai pengeboran inti. Tim meyakini ada ruang bawah tanah yang bisa diakses robot Gopher buatan Dr. Robert Ross dari Universitas La Trobe. Pengeboran dikebut sebelum musim dingin membekukan tanah dan memaksa operasi berhenti hingga tahun depan.
Formasi Durupinar terletak di Turki timur, tak jauh dari Gunung Ararat. Bentuknya menyerupai lambung kapal raksasa yang terpendam di lapisan batu kapur dan tanah liat vulkanik. Sebagian peneliti meyakini struktur ini sebagai lokasi peristirahatan Bahtera Nuh yang disebut dalam Kitab Kejadian.
Ekspedisi Noah's Ark Scans kini memulai tahap pengeboran inti sempit menuju ruang bawah tanah yang sempat terdeteksi radar penembus tanah. Pemerintah Turki memberi izin, dengan pengawasan universitas-universitas setempat dan sejumlah ahli dari berbagai negara.
Klaim Struktur Bawah Tanah dari Radar
Dalam beberapa tahun terakhir, tim Noah's Ark Scans memetakan area ini memakai ground-penetrating radar. Mereka mengklaim menemukan struktur mirip koridor dan ruangan di bawah permukaan, termasuk satu lorong yang membentang lebih dari 76 meter.
Langkah lanjutannya adalah mengirim Gopher, robot bawah tanah rancangan Dr. Robert Ross dari Universitas La Trobe, Australia. Robot itu dibekali peralatan untuk merekam gambar beresolusi tinggi dan mengambil sampel tanah dari area yang tak bisa dimasuki manusia.
Direktur Proyek Dr. Cenker Atila dari Universitas Sivas Cumhuriyet, Turki, termasuk di antara ahli yang terlibat. Tim ini juga menampung arkeolog dan ahli geologi dari sejumlah negara.
Sosok Kontroversial di Balik Publisitas Ekspedisi
Urusan publisitas ditangani Lauren Witzke, aktivis Kristen asal Amerika yang dikenal kontroversial. Ia pernah mencalonkan diri sebagai senator dan secara terbuka menyatakan diri penganut teori Bumi datar, mendukung teori konspirasi sayap kanan QAnon, serta menyebut vaksin Covid sebagai konspirasi setan.
"Selamat pagi dari tepian luar Bahtera Nuh," tulis Witzke di akun Facebooknya, seperti dikutip New York Post.
Rekaman drone yang ia bagikan memperlihatkan kegiatan pengeboran sudah berjalan. Pihak penyelenggara penggalangan dana menyebut proyek ini butuh dana USD 600.000 untuk memulai pengeboran, dan hingga Selasa lalu dana yang terkumpul baru sebagian kecil dari jumlah itu.
Sejarah Panjang Perdebatan Durupinar
Formasi Durupinar pertama kali terekam pada 1959, saat seorang kapten Angkatan Darat Turki memotretnya dari udara ketika memetakan wilayah. Peneliti lokal lalu melakukan survei, penggalian, bahkan peledakan dengan dinamit, tetapi tidak menemukan bukti arkeologis apa pun.
Kesimpulan awal saat itu: formasi tersebut hanya anomali alam. Ahli geologi modern sepakat, memandangnya sebagai pegunungan berbentuk kapal dari batu kapur dan tanah liat vulkanik yang terbentuk akibat erosi.
Situs ini sempat terlupakan hingga 1980-an, ketika pakar penyelamatan asal Amerika, David Fasold, memeriksanya dengan radar penembus tanah. Fasold yakin melihat sisa fosil geladak atas sebuah kapal. Ia mengukur panjang formasi mencapai 164 meter, mendekati ukuran bahtera 300 hasta atau sekitar 157 meter dalam Alkitab.
Ada pula temuan batu jangkar berupa batu besar berukir dengan lubang di ujung atas, tersebar di barat laut situs. Fasold meyakini batu-batu itu jangkar laut kuno yang dilepaskan saat air bah surut. Pihak skeptis menilai benda itu sekadar penanda peringatan atau batu nisan kuno.
Bertahun-tahun kemudian, Fasold berbalik pandangan dan menyebut teori bahtera itu omong kosong. Namun rekan sekaligus penulis biografinya asal Australia, June Dawes, bersikeras Fasold meninggal dengan keyakinan telah menemukan bahtera tersebut.
Berpacu dengan Musim Dingin
Tim ekspedisi kini mengejar waktu sebelum musim dingin tiba. Suhu yang turun akan membekukan tanah dan memaksa operasi dihentikan hingga tahun depan.
Jika pengeboran dan robot Gopher berhasil menjangkau ruang bawah tanah, sampel yang diambil bisa jadi bahan uji pertama dalam beberapa dekade. Hasilnya nanti yang menentukan apakah Durupinar benar struktur buatan atau sekadar bentukan alam yang kebetulan menyerupai kapal.