Cara Atur Dana Pendidikan Anak Tanpa Harus Stop Healing

Ilustrasi pengaturan keuangan keluarga untuk dana pendidikan anak dan kebutuhan pribadi.
Penulis: Saifuddin Wahid
Sabtu, 26 September 2026 | 09:41:31 WIB

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Survei Fidelity menemukan orangtua yang mulai menabung pendidikan sedini mungkin lebih siap menghadapi biaya sekolah anak dibanding yang menunda. Kabar baiknya, Ibu tetap bisa sisihkan budget healing, liburan, atau sekadar ngopi santai tanpa mengorbankan masa depan si kecil. Berikut panduan mengatur keduanya agar berjalan seimbang.

Punya anak memang mengubah prioritas keuangan keluarga. Ada kebutuhan harian, biaya rumah tangga, dana darurat, sampai dana pendidikan yang sebaiknya disiapkan sejak awal. Tapi bukan berarti semua pengeluaran untuk kesenangan harus dihapus.

Kalau seluruh penghasilan masuk ke tabungan pendidikan, mengatur keuangan justru terasa seperti beban. Yang dibutuhkan bukan memilih salah satu, melainkan memberi porsi masing-masing sejak awal.

Mulai dari Target Dana Pendidikan yang Realistis

Langkah pertama adalah memperkirakan kebutuhan pendidikan yang ingin disiapkan. Tidak perlu langsung mengejar nominal puluhan atau ratusan juta sekaligus.

Pecah target besar itu menjadi jumlah bulanan yang lebih masuk akal. Fokus dulu pada berapa yang bisa disisihkan rutin setiap bulan. Dengan begitu, menabung terasa seperti kebiasaan, bukan beban yang menumpuk.

Jumlahnya bisa disesuaikan dengan biaya yang ingin ditanggung dan kemampuan finansial keluarga. Tidak ada patokan yang sama untuk semua orang.

Sisihkan Budget Khusus untuk Healing

Setelah kebutuhan utama dan tabungan pendidikan ditentukan, sisakan ruang untuk menikmati hidup. Nominalnya tentu berbeda untuk setiap keluarga.

Healing tidak selalu berarti liburan mahal. Makan di restoran favorit, pergi ke salon, menonton film, staycation singkat, atau ngopi bareng teman bisa masuk ke budget ini.

Dengan batas yang jelas, Ibu tetap bisa menikmati waktu tanpa rasa bersalah. Anggaran healing bukan pemborosan selama sudah ada porsinya sendiri.

Gunakan Penghasilan Tambahan dengan Bijak

Saat mendapat bonus atau pemasukan tambahan, tidak harus semuanya masuk ke dana pendidikan. Sebagian bisa memperkuat tabungan, sebagian lain dipakai untuk kebutuhan keluarga atau hal yang sudah direncanakan.

Cara ini membuat menikmati hasil kerja tetap menyenangkan tanpa membuat target keuangan berantakan.

Cek Pengeluaran Setiap Bulan

Luangkan waktu untuk melihat ke mana saja uang pergi. Bukan untuk menyalahkan diri karena terlalu banyak keluar, tapi untuk mengetahui apakah pembagian budget masih sesuai.

Kalau pengeluaran makan di luar ternyata terlalu besar, bulan berikutnya bisa dikurangi sedikit. Uang yang tersisa dialihkan ke tabungan atau kebutuhan lain.

Jangan Ragu Menyesuaikan Target

Penghasilan dan kebutuhan keluarga tidak selalu sama setiap bulan. Ketika ada pengeluaran tak terduga, target menabung bisa disesuaikan untuk sementara.

Begitu kondisi kembali stabil, jumlahnya bisa dinaikkan lagi. Fleksibilitas ini penting agar rencana keuangan tidak runtuh saat ada kejadian di luar perkiraan.

Konsistensi Lebih Penting daripada Nominal Besar

Tidak perlu memaksakan nominal tinggi jika memang belum mampu. Menabung rutin sesuai kemampuan lebih realistis daripada membuat target besar tapi sulit dipertahankan.

Pola pikir ini juga membantu Ibu tetap tenang. Yang penting bukan sempurna setiap bulan, tapi terus berjalan.

Kapan Perlu Evaluasi Ulang?

Ada saatnya pembagian budget perlu ditinjau kembali. Misalnya saat anak masuk jenjang sekolah baru, ada anggota keluarga sakit, atau penghasilan berubah signifikan.

Evaluasi juga penting ketika Ibu merasa terlalu ketat pada diri sendiri sampai stres. Keseimbangan keuangan dan kesehatan mental sama-sama perlu dijaga.

Mengatur dana pendidikan dan budget healing bukan soal memilih salah satu. Keduanya bisa berjalan beriringan asal ada porsi yang jelas, konsisten dijalankan, dan fleksibel saat kondisi berubah.

Reporter: Saifuddin Wahid