Sarwendah Minta Polemik Hak Asuh Anak Ruben Onsu Dihentikan di Publik

Kuasa hukum Sarwendah, Chris Sam Siwu, meminta polemik hak asuh anak tidak lagi dibahas di media.
Penulis: Ridwan Azhari
Kamis, 17 September 2026 | 09:01:31 WIB

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Kuasa hukum Sarwendah, Chris Sam Siwu, meminta polemik hak asuh anak antara kliennya dan Ruben Onsu tidak lagi dibahas di media. Alasannya, anak-anak berisiko mengalami tekanan psikologis jika konflik orang tua terus menjadi konsumsi publik.

Permintaan itu disampaikan Chris melalui unggahan terbarunya. Ia menegaskan bahwa perkara hak asuh anak seharusnya mengutamakan privasi dan tumbuh kembang anak, bukan dijadikan tontonan publik.

Anak Jadi Prioritas Utama

Chris menyoroti bahwa perkara ini menyangkut anak-anak, sehingga kepentingan dan privasi mereka harus menjadi prioritas bersama. Ia mengingatkan bahwa proses hukum soal hak asuh sebaiknya berjalan tanpa tekanan tambahan dari luar.

"Perkara ini menyangkut soal anak-anak. Seharusnya kepentingan dan privasi mereka yang menjadi prioritas kita bersama," ungkap Chris Sam Siwu.

Kekhawatiran pada Kondisi Psikologis Anak

Kubu Sarwendah merasa prihatin karena isu perbedaan keyakinan belakangan ini diangkat ke publik tanpa konteks lengkap. Menurut Chris, hal itu justru mengaburkan esensi perlindungan hak anak yang seharusnya jadi fokus utama.

Anak-anak yang berada di tengah konflik orang tua berisiko mengalami tekanan emosional. Karena itu, pembahasan polemik di media dikhawatirkan berdampak langsung pada kondisi psikologis buah hati.

Mengapa Polemik di Media Perlu Dihentikan

Perdebatan terbuka soal hak asuh membuat anak terekspos pada informasi yang belum tentu sesuai dengan usia mereka. Dalam banyak kasus, anak bisa merasa bingung, cemas, hingga menarik diri dari lingkungan sosial.

Chris mengajak pihak Ruben untuk sama-sama menahan diri dan menyelesaikan persoalan ini melalui jalur yang semestinya. Perlindungan anak, menurutnya, harus berada di atas kepentingan lain.

Peran Orang Tua Menjaga Anak dari Konflik

Saat konflik keluarga menjadi konsumsi publik, anak sering kali jadi pihak yang paling terdampak. Mereka bisa mendengar atau membaca hal-hal yang belum waktunya mereka pahami.

Orang tua dianjurkan menjaga komunikasi tetap tenang di depan anak, menghindari membahas perselisihan di ruang terbuka, dan memastikan kebutuhan emosional anak tetap terpenuhi selama proses hukum berjalan.

Langkah paling bijak adalah menyerahkan persoalan hak asuh pada proses hukum yang berlaku. Yang terpenting, anak tetap merasa aman dan dicintai oleh kedua orang tuanya, apa pun hasil akhirnya nanti.

Reporter: Ridwan Azhari