Sungai Kapuas Kering, APBI: Pasokan Batu Bara RI Berisiko Menumpuk

Tongkang pengangkut batu bara melintasi alur Sungai Kapuas yang menyempit akibat kekeringan di Kalimantan.
Penulis: Saifuddin Wahid
Senin, 07 September 2026 | 09:21:31 WIB

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Kekeringan ekstrem yang melanda jalur sungai utama di Kalimantan mulai menekan operasional logistik batu bara nasional. Kapal-kapal tongkang kini kesulitan mengangkut komoditas tambang dengan kapasitas maksimal menyusul menyusutnya kedalaman alur pelayaran.

Kendala Draft Tongkang dan Penumpukan Stok

Kondisi surutnya air sungai secara langsung membatasi draft atau batas kedalaman lambung kapal tongkang yang aman untuk melintas. Muatan terpaksa dipangkas demi mencegah kapal kandas di jalur sungai yang mendangkal.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Gita Maharyani memaparkan bahwa penurunan muka air ini telah memicu penumpukan komoditas di rantai hulu rantai pasok.

"Kondisi ini berpotensi meningkatkan stok sementara di area tambang maupun stockpile pelabuhan," kata Gita, dikutip Senin (7/9/2026).

Jika pengangkutan lewat jalur air terus terhambat, kapasitas tampung terminal transit di pelabuhan serta area tambang dikhawatirkan lekas penuh. Hal ini memaksa para pelaku usaha mengatur ritme pengeluaran batu bara dari konsesi.

Sentimen Pasar Global dan Dinamika Harga

Meski gangguan arus logistik domestik di Indonesia menjadi perhatian pelaku industri, faktor ini dinilai belum tentu mengerek harga batu bara dunia secara signifikan. Pasar internasional masih sangat bergantung pada pergerakan pasokan dan permintaan global.

"Secara umum, kekeringan dan penurunan muka air sungai terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan dan mulai memengaruhi aktivitas pengangkutan batu bara," ujar Gita.

APBI menegaskan bahwa pembentukan harga di bursa energi global tetap dikendalikan oleh faktor multisektor, bukan semata

Reporter: Saifuddin Wahid