LIPUTANHARIAN.CO.ID — PB FORKI resmi membentuk Guardian Girls Karate Indonesia sebagai program pelatihan bela diri bagi perempuan. Pembentukan ini didasari licensing agreement dengan World Karate Federation, dan langsung menunjuk Shihan Ucok Marisi Sihotang sebagai Direktur Teknik.
Pengurus Besar Federasi Karate-Do Indonesia (PB FORKI) menuntaskan pembentukan Guardian Girls Karate Indonesia. Program ini lahir dari licensing agreement antara World Karate Federation (WKF) selaku induk karate dunia dan PB FORKI.
Penandatanganan perjanjian dilakukan Presiden WKF Antonio Espinos Ortueta bersama Ketua Umum PB FORKI Hadi Tjahjanto. Kesepakatan itu menjadi landasan pengembangan program GGK di Tanah Air lewat rangkaian seminar dan pelatihan.
Shihan Ucok Marisi Sihotang Ditunjuk sebagai Direktur Teknik
Penunjukan Shihan Ucok Marisi Sihotang sebagai Direktur Teknik GGK Indonesia dituangkan melalui Surat Keputusan Ketua Umum PB FORKI. Pelaksanaan program GGK Indonesia pun berada dalam koordinasi dan pembinaan PB FORKI.
Hadi menyampaikan hal itu saat memberikan arahan kepada jajaran Direktur Teknik GGK dan instruktur GGK Indonesia, Sensei Puspa Meonk, di Pendopo Wijaya, Cilandak, Jakarta, Selasa (6/10/2026).
"Guardian Girls Karate Indonesia telah terbentuk secara sah di bawah naungan Federasi Karate-Do Indonesia berdasarkan licensing agreement antara World Karate Federation sebagai induk organisasi karate dunia dengan FORKI," ujar Hadi.
Dua Instruktur Perempuan Bersertifikat WKF Pimpin Pelatihan
GGK Indonesia diperkuat dua instruktur perempuan pemegang lisensi GGK dari WKF, yakni Sensei Puspa Meonk dan Sensei Tenne. Keduanya menempuh pelatihan GGK Internasional WKF pada Maret 2026 yang berafiliasi dengan Kayomada International Foundation di Osaka, Jepang.
Hadi menilai kehadiran instruktur berlisensi internasional menjadi salah satu penopang utama dalam menjalankan pelatihan dan pembinaan GGK di Indonesia sesuai misi yang ditetapkan.
"Dengan dua srikandi karate yang telah memiliki lisensi GGK International maka pelatihan dan pembinaan GGK di Indonesia akan berjalan sesuai misi tersebut," papar Hadi.
Misi Kemanusiaan: Bekal Karate untuk Hadapi Kekerasan Berbasis Gender
Program GGK tidak sekadar memperkenalkan olahraga karate. Hadi menjelaskan pelatihan ini membekali perempuan yang belum punya kemampuan dasar bela diri agar mampu menghadapi ancaman, baik dari agresor maupun pelecehan.
"Saya berharap program-program GG Karate selain melatih para perempuan Indonesia yang belum memiliki basic bela diri, untuk dibekali dasar karate dalam menghadapi ancaman baik berupa agresor maupun pelecehan terhadap perempuan, kegiatan ini juga sebagai misi kemanusiaan yang dapat dilakukan GGK Indonesia," tutur Hadi.
Setelah GGK Indonesia terbentuk, langkah berikutnya adalah melengkapi personel sekaligus menyusun program yang sejalan dengan arahan WKF. Hadi berharap program ini menjangkau perempuan di berbagai wilayah Indonesia.
"GGK Indonesia berkomitmen untuk memajukan GGK di seluruh Indonesia melalui Federasi Karate-Do Indonesia sejalan dengan misi membantu perempuan Indonesia menghadapi situasi kekerasan berbasis gender melalui praktik olahraga karate," pungkas Hadi.