LIPUTANHARIAN.CO.ID — Kementerian Pariwisata menegaskan sejarah dan budaya di balik sebuah hidangan jadi kunci pengembangan wisata gastronomi Indonesia, bukan cuma cita rasa dan bahan pangan. Dalam Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) Talks 2026 di DI Yogyakarta, Jumat (2/10), 22 pembicara dari pemerintah, industri, seni, dan akademisi membahas gastronomi sebagai identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi berkelanjutan. Rekam sejarah yang terdokumentasi baik disebut jadi kekuatan utama gastronomi Yogyakarta.
Pandangan itu mengemuka dalam Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) Talks 2026 yang digelar di DI Yogyakarta, Jumat (2/10). Forum ini menghadirkan 22 pembicara dari unsur pemerintah, industri, pegiat seni, hingga akademisi.
Mengapa Kuliner Jogja Cenderung Manis
Penghageng Kawedanan Hageng Nitya Budaya Keraton Yogyakarta sekaligus Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, menyebut wisata gastronomi mesti menghadirkan cerita, pengalaman budaya, dan keberlanjutan sumber pangan lokal.
"Semua produk wisata gastronomi di Jogja harus memiliki latar belakang cerita. Contohnya, mengapa kuliner Jogja cenderung manis? Karena pada masa Sultan Hamengkubuwono VII, terdapat sekitar 19 pabrik gula di Jogja. Gula menjadi simbol status sosial dan kekayaan bagi keraton, sehingga minuman dan makanan saat itu disajikan sangat manis. Jadi, orang tahu rekam sejarahnya; ini yang harus dikemas dengan baik," kata GKR Bendara.
Dua kuliner langka jadi contoh konkret, yakni nasi golong gilig dan dawet sambal. Dawet sambal memadukan dawet manis, sambal pecel, dan tahu.
"Karena terkadang orang baru mendengar dawet sambal sudah menolak dulu, karena pikirannya dawet manis kok ada sambalnya. Jadi dawet manis tapi ada sambal pecelnya, jadi ada tahunya tapi ada dawetnya," ujarnya.
Rendang dan Narasi Kota Pusaka Bukittinggi
Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias menambahkan gastronomi perlu dikemas lewat narasi kuat yang berpijak pada nilai budaya. Rendang jadi contohnya.
"Gastronomi harus terus dicatat, diwariskan, dan diintegrasikan dengan penataan kota pusaka serta cerita sejarah agar memberikan nilai tambah yang optimal bagi wisatawan," ujar Ramlan.
Konsumen Lokal Punya Ikatan Emosional
Chef Fernando Sindu menyoroti standar tinggi konsumen lokal terhadap makanan daerah. Ikatan emosional dengan hidangan yang dikenal sejak kecil membuat mereka kritis.
"Orang Indonesia sangat kritis terhadap makanan lokal karena memiliki kenangan atau ikatan emosional dengan masakan keluarga seperti nenek atau ibu. Jadi penting banget untuk memahami resep dari sumber aslinya di berbagai daerah agar dapat menyajikan makanan yang autentik sekaligus memberikan sedikit sentuhan atau modifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan kepada konsumen," katanya.
Dari sisi dokumentasi visual, ilustrator sekaligus pengisah makanan Nugraha Pratama menyebut tantangan terbesarnya bukan menggambarkan rasa.
"Bagian tersulit bukan menggambarkan rasa, melainkan menangkap budaya di balik makanan tersebut karena memiliki latar belakang sejarah yang panjang dan mendalam," ucap dia.
Lewat goresan sketsa, Nugraha berupaya membangun dokumentasi sejarah visual gastronomi. Tujuannya merekam cara manusia menikmati kuliner sekaligus berinteraksi sosial pada zamannya.
Yang Bisa Dibawa Pulang Traveler
Bagi wisatawan yang merencanakan perjalanan kuliner, pesan forum ini cukup jelas. Sebelum mencicipi hidangan khas daerah, ada baiknya menelusuri cerita di baliknya.
Di Yogyakarta, traveler bisa menanyakan langsung asal-usul hidangan ke pelaku usaha kuliner atau mengunjungi sentra makanan tradisional. Informasi terkini soal agenda wisata gastronomi dapat dikonfirmasi via dinas pariwisata setempat.
Durasi ideal untuk menjelajah gastronomi Jogja adalah dua hingga tiga hari. Waktu itu cukup untuk mencoba lebih dari satu hidangan bersejarah sambil memahami konteks budayanya.