LIPUTANHARIAN.CO.ID — Badan Industri Mineral mengidentifikasi potensi logam tanah jarang yang tersimpan pada sisa pembakaran di lebih dari 250 PLTU di Indonesia. Mineral strategis ini jadi bahan baku ponsel, baterai kendaraan listrik, hingga turbin angin. Pemetaan sumber daya sekunder ini jadi langkah awal membangun rantai pasok dalam negeri.
Dari Limbah PLTU ke Bahan Baku Teknologi
Deputi Bidang Riset dan Pengembangan Teknologi BIM Yogi Wibisono Budhi menyampaikan bahwa sumber sekunder dari operasional PLTU menjadi salah satu fokus pemetaan sumber daya mineral strategis nasional.
"Kita mempunyai misalkan monasit, ya ada senotim, ada IAC ya di kawasan Mamuju. Kemudian juga ada red mud, ada fly ash bottom ash yang ada di sejumlah PLTU, yang kita mempunyai lebih dari 250 PLTU yang tersebar di Indonesia. Dan di situ terkandung sejumlah logam tanah jarang yang menjadi challenging untuk bisa kita berdayakan," ujarnya dalam acara yang digelar Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia.
LTJ dapat diambil melalui tiga jalur sumber: primer, sekunder, dan tersier. Pemanfaatan sisa hasil tambang dan industri dinilai kian penting seiring kebutuhan mineral untuk teknologi masa depan yang terus naik.
Permintaan Global Melonjak, Persaingan Bergeser
Data International Energy Agency (IEA) yang dikutip BIM menunjukkan kebutuhan mineral untuk kendaraan listrik meningkat enam kali lipat. Sementara pembangkit listrik tenaga angin darat membutuhkan mineral sembilan kali lipat dibandingkan sistem pembangkit gas.
"Nah, ke depan pergeseran bahwa sumber daya yang berkaitan dengan mineral yang bisa diubah menjadi logam tanah jarang, ini menjadi salah satu kekuatan yang sangat penting ya untuk bisa dipertimbangkan," kata Yogi.
LTJ terdiri dari 17 unsur logam yang berada dalam satu golongan di tabel periodik. Proses pemisahan menjadi single element punya tantangan teknis tinggi. Unsur seperti neodymium (Nd), praseodymium (Pr), dysprosium (Dy), terbium (Tb), dan yttrium (Y) dibutuhkan sebagai bahan baku magnet permanen pada motor kendaraan listrik dan turbin angin. Adapun scandium dipakai untuk paduan aluminium.
Yogi menilai persaingan global kini tidak lagi sekadar soal siapa punya cadangan terbanyak. "Sehingga kemudian persaingan global ini telah bergeser dari sekadar mempunyai cadangan ya walaupun jumlahnya banyak, kemudian bergeser menuju bagaimana supply chains ini bisa dibangun," paparnya.
Risiko Hilangnya Nilai Tambah
Pertimbangan lain yang mendorong pemetaan ini adalah potensi kerugian negara. Ekspor bahan mentah yang kemudian diimpor kembali dalam bentuk produk jadi berpotensi menimbulkan kerugian hingga ribuan triliun rupiah akibat kehilangan nilai tambah.
Untuk mengatasi persoalan itu, BIM akan mengorkestrasikan kerja sama antara kementerian, lembaga, BRIN, perguruan tinggi, dan industri pertambangan. Tujuannya mengakselerasi riset ekstraksi dan pemurnian di dalam negeri.
"Oleh karena itu, peran BIM hadir di sini adalah untuk memotong gap tersebut. Kita ingin menghubungkan antara hasil-hasil riset yang ada di perguruan tinggi dan lembaga riset seperti BRIN, dengan kebutuhan riil industri," tandasnya.
Penutup: Pemetaan LTJ dari sisa pembakaran PLTU membuka peluang Indonesia masuk ke rantai pasok mineral kritis dunia tanpa harus membuka tambang baru. Tantangannya ada di hulu: kemampuan ekstraksi dan pemurnian dalam negeri yang masih harus dibangun dari nol.