BYD Resmikan Pabrik Subang pada 3 September 2026, Impor CBU Anjlok ke 3.518 Unit
LIPUTANHARIAN.CO.ID — Tinggal beberapa pekan lagi, BYD akan menghentikan statusnya sebagai pemain yang sepenuhnya bergantung pada kendaraan impor utuh (completely built up/CBU). Pabrik perakitannya di Subang memasuki tahap akhir dan siap berproduksi, menuntaskan komitmen investasi yang ditebus lewat kebijakan insentif bea masuk sejak 2023.
Menurut catatan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), total mobil yang dikirim dari China ke Indonesia sejak 2024 sampai Juli 2026 mencapai 94.798 unit. Model yang didatangkan cukup beragam, mulai dari MPV listrik M6, SUV Atto 3, sedan Seal, hingga minivan premium Denza D9 dan MPV mewah Denza D9 yang belakangan paling banyak diserap pasar.
Alasan Volume Impor Melonjak pada 2025
Tahun lalu menjadi periode puncak impor BYD, dengan 74.513 unit yang masuk ke Tanah Air. Angkanya nyaris lima kali lipat dibanding tahun pertama masuk secara besar-besaran pada 2024 yang mencatatkan 16.767 unit.
Pemicunya bukan semata permintaan pasar. Kebijakan pemerintah yang memberikan pembebasan bea masuk untuk mobil listrik CBU—diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 6 Tahun 2023 jo No. 1 Tahun 2024—membuat BYD leluasa mengimpor dalam jumlah besar tanpa beban fiskal tambahan selama fasilitas produksinya belum berdiri.
Skema ini memang mensyaratkan produsen penerima insentif untuk menandatangani surat komitmen investasi, berisi janji membangun pabrik dan merakit kendaraan listrik di dalam negeri. Konsekuensinya, begitu fasilitas beroperasi, kewajiban produksi lokal dalam volume setara harus dipenuhi sebagai bentuk "pembayaran" atas keringanan pajak yang sudah dinikmati.
Transisi ke Produksi Lokal dan Penurunan Impor
Fasilitas pembebasan bea masuk itu resmi berhenti pada akhir 2025. Tenggat kewajiban produksi lokal yang jatuh pada 2026 membuat pola impor berubah drastis: hanya 3.518 unit yang dikirim sepanjang Januari–Juli tahun ini, dengan Denza D9 menyumbang 2.982 unit dan Atto 3 sebanyak 536 unit.
Penurunan tajam itu wajar. BYD kini bersiap memindahkan sumber pasokan utamanya dari pabrik di China ke fasilitas Subang, dan angka impor yang mengecil menjadi indikasi paling jelas bahwa peralihan itu sedang berjalan.
Rincian Model yang Pernah Diimpor ke Indonesia
Dari total 94.798 unit yang tercatat sejak 2024, komposisi per tahun menunjukkan bagaimana BYD memetakan segmen pasar yang berbeda-beda di Indonesia.
Sepanjang 2024, Seal menjadi model terlaris dengan 5.312 unit, disusul M6 dengan 6.248 unit dan Atto 3 sebanyak 4.012 unit. Adapun Dolphin berkontribusi 1.195 unit.
Memasuki 2025, komposisinya bergeser jauh. SUV kompak Atto 1 memuncaki daftar dengan 30.060 unit, disusul M6 yang mencapai 17.290 unit dan Sealion 07 sebanyak 12.700 unit. Denza D9 menyusul dengan 10.500 unit, sementara Atto 3 hanya 2.100 unit. Model lain seperti Seal (650 unit), Dolphin (733 unit), dan E6 (480 unit) hadir dalam jumlah lebih kecil.
Tren 2026 yang hanya mengandalkan Denza D9 dan Atto 3 mempertegas bahwa BYD sedang merampingkan lini impornya. Begitu pabrik Subang beroperasi penuh, pasokan model-model tadi kemungkinan besar akan dialihkan sepenuhnya ke produksi lokal.